Pantai Kedonganan, Bali

Hari pertama di Bali, yang kami cari tentu saja… pantaaiii. Dapat info juga dari sepupu tempat makan seafood yang murah, yaitu di Pantai Kedonganan. Kebetulan banget nih, pantainya dekat dengan hotel. Jadi berangkatlah kami sore hari itu ke Pantai Kedonganan.

Sebagai orang kota yang jarang melihat pantai, maka bernorak-noraklah kami main pasir, main air, foto sana sini sambil liat sunset. Tak terasa hari mulai gelap, maka bergegaslah kami menuju pasar ikan. Pantai Kedonganan memang terkenal dengan pasar ikannya. Kita bisa membeli makanan laut yang masih hidup dan segar di pasar dan minta dimasakkan di kedai-kedai yang ada di sekitar pasar. Ongkos masaknya mulai Rp. 20.000,- per kilogram (bisa dibakar, digoreng atau bumbu asam manis) plus sudah dapat nasi dan sambal.

.

.

.

Patung Garuda Wisnu Kencana terlihat dari sini

 

Begitu masuk pasar, bingung juga ya mau beli apa. Pasarnya becek dan karena sudah kesorean jadinya agak gelap. Penerangannya di dalam pasarnya juga kurang. Setelah celingak celinguk akhirnya kami memutuskan untuk batal makan seafood karena selain kedai-kedai tempat makannya penuh, antrian untuk dimasakkannya pun lama. Bisa nunggu satu jam lebih..huhu..

.

 

.

Tips makan di sini :
1. Jangan lupa tawar harga bila berbelanja di pasar
2. Datang jangan pas jam makan atau sunset

Royal Tulip Springhill Resort, Jimbaran – Bali

Setelah sukses ikut-ikutan promo Gledek dari tiketcom, walaupun ga dapat harga gledek, hanya gluduk aja, akhirnya mendaratlah kami sekeluarga di Bali.  Sempat deg-degan takut batal pergi karena sebelumnya sudah 2 kali beli tiket ke Bali dan hangus..hiks.

Di airport Ngurah Rai, sempat bingung mau naik apa ke hotel. Akhirnya si papa menuju loket taksi resmi, karena kami pikir kalau resmi walaupun harganya lebih mahal, tapi masih wajarlah. Di loket, petugasnya bilang kalau taksinya pakai argo. Tapi pas di dalam taksi ternyata supirnya punya kertas tarif yang dilaminating yang berisi area-area pengantaran beserta tarifnya. Untuk ke Jimbaran kami kena charge Rp. 175.000,-. Langsung deh berasa sebel, tapi gimana udah kadung masuk ke taksi. Padahal sewaktu kami pulang, ongkos naik gocar dari hotel ke bandara tidak sampai 50 ribu. Hiks.. Next time, kata driver gocar dan grab, kalau mau naik taksi online tunggu aja di depan Solaria.

Hotel yang kami tuju adalah Royal Tulip Springhill Resort. Lokasi hotelnya tidak berada di pinggir jalan besar, tetapi agak jauh masuk ke dalam. Jalan kaki jelas engga banget. Sesampainya di lobby hotel, kami disambut dengan resepsionis yang ramah dan disuguhi welcome drinks yang segar. Di sekitar hotel terdapat rumah-rumah yang disewakan untuk villa. Menurut resepsionis hotel, nantinya villa-villa tersebut akan dibeli dan dimanage oleh pihak hotel.

Royal Tulip Springhill Resort

 

Kamar yang kami tempati adalah Deluxe Room dengan pool view. Luas kamarnya 48 m2 dengan tempat tidur King Bed dan sofa yang lebar. Ada balkon di luar kamar yang menghadap ke kolam renang dan dilengkapi dengan sofa juga. Kamarnya bersih, hanya saja ada semut-semut kecil halus yang siap mengerubungi sisa-sisa makanan yang tertinggal di atas meja.

Deluxe room

 

Kamar mandinya juga luas, ada bathtub segala plus disediakan garam mandi. Trus yang jarang-jarang ada di kamar hotel nih,  digital scale. Haha.. ampun deh tiap hari tiap saat jadi nimbang badan mulu, bikin stres >.<

.

Bathroom

Kolam renangnya terlihat asri dengan banyak pepohonan di sekelilingnya menjadikan area di beberapa bagian kolam menjadi teduh. Di sini jadi keliatan mana yang turis domestik mana yang turis mancanegara. Kalau turis asing senang banget berjemur, mereka cari tempat yang terbuka kena sinar matahari. Nah, kalau turis lokal seperti kami.. “Panas maa, ntar aku jadi hitam. Udah susah nih mutihin kulit,” kata si kakak.

.

Swimming pool

.

Ruang makan untuk breakfast berada tidak jauh dari kolam renang. Makanannya cukup beragam, tetapi untuk rasa menurutku standar aja.

Di sebelah ruang makan ada Kids Room, ruang bermain untuk anak. Untuk playgroundnya sendiri ada, tapi tidak besar. Hanya ada ayunan dan trampolin. Oya, ada tersedia penyewaan sepeda juga bagi yang ingin sepedaan. Tapi sayang sepedanya besar semua, jadi anakku ga bisa naiknya.

Kids Room

Playground

 

Secara keseluruhan pengalaman menginap di Royal Tulip Springhill Resort ini menyenangkan. Staffnya ramah, suasana hotel juga nyaman tenang. Kekurangannya adalah tidak ada view bagus lain selain kolam renang. Ditambah lagi dengan akses masuknya yang jauh dari jalan besar. Buat aku pribadi, yang suka keluyuran keluar hotel kalau anak-anak pada mager, bikin mati gaya. Alhasil inilah makanan pertama kami di Bali by go-food :D

.

Goa Sunyaragi, Cirebon

Perjalanan ke Cirebon kali ini adalah bersama teman-teman SMAku… yeeaaah. Udah bikin rencana hampir setahun yang lalu, cuma ya begitulah… “gue ga bisa tanggal segini, gue ada acara tanggal segitu.” Hehe.. maklumlah mamak-mamak sibuk. Akhirnya ada 1 temen yang gerah, ditelponlah yang lain satu-satu. “Berangkat tanggal segini bisa ga? Kalau ga bisa ya udah ga ikut.” Eh, ternyata pada bisa semua.. hahaha. Trus pake acara ribut dulu. Aku ngajakin naik mobil aja dari Jakarta, yang lain pada minta naik kereta. Di sana aku bilang nyewa innova aja, kan cuma ber-tujuh, yang lain pada minta naik hi-ace. Katanya badan udah pada lebar-lebar jadi mau naik yang lebar aja…hihi.. ya sudah. Udah gitu urusan booking tiket kereta diserahkan ke aku.. ish padahal aku kan ngajaknya naik mobil.

Singkat cerita, mendaratlah kami ber-tujuh di stasiun Cirebon jam 10 pagi dan langsung menuju Nasi Jamblang Ibu Nur. Aku ga bahas tentang nasi jamblang ini ya, tapi kalau mau lihat penampakannya bisa lihat di IG @my.fourleafclover.

Setelah kenyang, tujuan selanjutnya adalah Goa Sunyaragi. Tidak sulit mencari lokasi Goa Sunyaragi karena letaknya berada di pusat kota Cirebon, tepatnya di Jl. Brigjen AR Dharsono, kelurahan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi. HTM-nya juga murah, hanya Rp. 10.000,-/orang. Kalau mau sewa pemandu tarifnya Rp. 50.000,-.

Pintu masuk Goa Sunyaragai, tempat pembelian tiket.

 

Memasuki bagian dalam kompleks Goa Sunyaragi, kita akan melihat tulisan “GOA SUNYARAGI” yang berwarna-warni. Sudah pasti tempat ini langsung dijadikan spot foto oleh para pengunjung. Kalau sedang berfoto di sini jangan lengah sama sekali, pose tubuh dan tampang harus tetapi cantik karena diam-diam kita juga di foto oleh… ngg, oleh siapa ga tau. Yang pasti, di pintu keluar foto-foto kita sudah terpampang dengan manis dan dijual seharga Rp. 5.000,-/lembar.

Mejeng dulu..

 

Untuk mengelilingi kompleks Goa Sunyaragi ini, kami memutuskan untuk memakai pemandu. Selain untuk mengetahui sejarah dari goa ini, bisa minta tolong juga untuk fotoin kita-kita..hihi. Jadi, pada zaman dahulu, kompleks Goa Sunyaragi yang mempunyai luas 15 hektar ini dikelilingi oleh danau, sehingga goa ini dikenal juga dengan nama Taman Air Sunyaragi. Nama Sunyaragi diambil dari bahasa Sanskerta. “Sunya” berarti sepi, “ragi” berarti raga. Sehingga kata Sunyaragi berarti raga yang sepi. Hal ini sesuai dengan tujuan utama didirikannya goa tersebut, yaitu sebagai tempat beristirahat dan tempat bersemedi para pembesar keraton Cirebon dan prajuritnya untuk meningkatkan ilmu kanuragan. Oleh karena itu kompleks Goa Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan untuk tempat beristirahat dan bangunan goa untuk bersemedi. Ada 10 goa di dalam kompleks ini yang selain berfungsi sebagai tempat bersemedi juga sebagai tempat bersantai, tempat pembuatan senjata dan sebagai dapur penyimpanan makanan.

Bekas saluran air yang sekarang kering

Goa Pawon yang berfungsi sebagai dapur penyimpanan makanan

Arsitektur dari kompleks goa ini merupakan hasil perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa. Gaya arsitektur Indonesia klasik atau Hindu dapat terlihat dari bangunan yang berbentuk joglo, antara lain Mande Beling dan Bale Kambang. Adanya patung-patung seperti patung gajah, patung Perawan Sunti, dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular serta bentuk dari gapura yang juga menunjukkan pengaruh dari budaya Hindu.

Pengaruh Cina kuno dapat terlihat dari adanya ukiran-ukiran berbentuk bunga matahari, bunga teratai dan bunga persik serta monumen yang digunakan sebagai tempat berdoa seorang Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati. Menurut pemandu kami, selain ukiran-ukiran tersebut dulu terdapat juga berbagai macam ornamen keramik Cina yang ditempel pada bagian luar goa. Hanya sayang, keramik-keramik tersebut akhirnya rusak dan hilang.

Pengaruh Timur Tengah atau Islam dapat terlihat dari bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai Kabah jika dilihat dari sisi belakang. Terdapat juga tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasalatan atau musholla dan tempat untuk wudhu.

Sedangkan gaya eropa dapat terlihat pada bentuk jendela yang tedapat pada bangunan Kaputren, bentuk tangga berputar pada gua Arga Jumut dan bentuk gedung Pesanggrahan.

Pusat dari seluruh goa adalah Goa Peteng (gelap) yang merupakan tempat bersemedi para Sultan. Selain sempit, bagian atas dari goa ini rendah sehingga mereka yang melalui goa ini harus berjalan merunduk. Filosofinya adalah manusia harus ingat akan leluhurnya dan tunduk kepada Tuhan YME. Di bagian depan goa Peteng terdapat kolam dan patung “Perawan Sunti”. Konon bila yang memegang patung ini adalah seorang perawan, maka ia akan kesulitan untuk mendapatkan jodoh.

Goa Peteng dengan patung Perawan Sunti di bagian paling depan dekat kolam

 

Untuk menambah atraksi dari wisata di Goa Sunyaragi ini, disediakan juga spot foto pada ayunan dan sepeda gantung. Hanya dengan membayar Rp. 10.000,- maka kita bisa berpose pada ayunan atau sepeda gantung yang ada.

Sepedanya nganggur

Sensor dikit :D