Rupa-rupi

Buat paspor online di Kanim Jakarta Timur

Update : Cara membuat paspor tahun 2018

Udah lama banget mau memperpanjang paspor dan buatin paspor anak-anak, tapi ga sempat dan males…hehehe.. Jadi kalau si papa lagi tugas ke luar cuma bisa ihik…ihik aja karena ga punya paspor. Akhirnya sebagai resolusi terakhir tahun 2014, disempet-sempetinlah buat paspor. Lagipula katanya mengurus pembuatan paspor sekarang gampang, ga pakai calo, harganya juga ga diketok dan bisa online tanpa harus upload dokumen.

Setelah googling sana-sini dan mencoba input data di web imigrasi, akhirnya berhasil juga tahap awal untuk membuat paspor online.

Berikut langkah-langkahnya :

1. Mengisi Data Online

  • Buka https://ipass.imigrasi.go.id:9443/xpnet/faces/xpnet-main.xhtml
  • Pilih menu Pra Permohonan Personal
  • Perhatikan pilihannya. Untuk memperpanjang paspor, pilih Penggantian – Habis Berlaku dan masukan nomor paspor lamanya. Untuk pembuatan paspor baru, pilih Baru – Paspor Biasa
  • Pilih Jenis Paspor yang dikehendaki
  • Pilih Lokasi Kantor Imigrasi yang dikehendaki
  • Masukan data-data sesuai dengan KK dan KTP

* Untuk Ibu Rumah Tangga dan anak, pilih pekerjaan “Lainnya”
* Untuk anak yang belum mempunyai KTP, masukan NIK yang ada di KK. Tanggal berlaku ID masukan tanggal KK dikeluarkan, dan untuk tanggal berkahirnya tambahkan 5 tahun dari tahun KK dikeluarkan.

  • Setelah input selesai, cek email untuk mendapat Bukti Pengantar ke Bank. Bank yang digunakan adalah BNI

 

2. Melakukan Pembayaran ke Bank

  • Print Bukti Pengantar ke Bank dan serahkan langsung ke tellernya.
  • Biaya pembuatan paspor biasa adalah Rp. 355.000, e-passport Rp. 655.000,- plus biaya admin banknya Rp. 5.000,-
  • Setelah melakukan pembayaran ke bank, kita akan mendapatkan no jurnal banknya.

 

3. Memilih Waktu Kedatangan

  • Buka kembali email yang dikirim sebelumnya. Di sana akan ada link untuk mengkonfirmasi pembayaran yang sudah dilakukan
  • Buka linknya dan masukan no jurnal bank.
  • Pilih waktu kedatangan ke kantor imigrasi
  • Cek email, print Tanda Terima Permohonan-nya. Isi data-data di formulir yang ada.

 

* Langkah 2 dan 3 harus dilakukan dalam 5 hari kerja. Bila tidak maka permohonan akan dihapus dari sistem dan uang yang sudah dibayarkan akan hangus. Untuk mengajukan permohonan kembali, harus mengikuti langkah no. 1 kembali dan melakukan pembayaran lagi.

Perhatikan dokumen yang harus dibawa :

Untuk Dewasa :
– Fotokopi KTP
– Fotokopi KK
– Fotokopi Akte Lahir
– Fotokopi Ijazah
– Fotokopi Surat Nikah
– Fotokopi Paspor Lama (bila ada)
– Bukti Pembayaran ke Bank
– Materai 6.000
– Semua dokumen asli

Untuk Anak-anak :
– Fotokopi KTP Ayah dan Ibu (difotokopi dijadikan 1 halaman)
– Fotokopi KK
– Fotokopi Akte Lahir
– Fotokopi Surat Nikah Orang tua
– Fotokopi Paspor Lama dan (bila ada)
– Fotokopi Paspor Orang Tua (bila ada, difotokopi dijadikan 1 halaman)
– Bukti Pembayaran ke Bank
– Materai 6.000
– Semua dokumen asli

* Semua fotokopi harus di kertas A4
* Kalau anaknya lebih dari 1, jangan pelit-pelit buat fotokopi sebanyak jumlah anak yang dibuatkan paspornya

paspor-kanim-jaktim

4. Datang ke Kantor Imigrasi sesuai tanggal yang dipilih.

  • Ambil nomor dan minta formulir Surat Pernyataan kepada petugas. Untuk anak-anak : Formulir Surat Pernyataan Orang Tua.  Untuk Dewasa : Formulir Surat Pernyataan (isinya paspor yang diterima tidak akan disalahgunakan.. blablabla..)
  • Isi Formulir dan bubuhkan materai
  • Tunggu nomor dipanggil untuk diperiksa kelengkapan dokumennya
  • Setelah dokumen diperiksa, kita akan diberi nomor antrian untuk foto dan wawancara
  • Foto dan wawancara

 

5. Paspor selesai dalam 3 hari kerja.

 

Pengalaman aku buat paspor di Kanim Jakarta Timur

Datang jam 7 pagi, ternyata antrian sudah banyak dan untuk paspor online hanya dibatasi 250 orang (kalau ga salah). Untuk paspor offline/walk-in juga dibatasi nomor antriannya (1 nomor untuk 1 pemohon) dan diutamakan buat yang lansia. Tunjukan print out Tanda Terima Permohonannya untuk pembuatan paspor online ke petugas yang menjaga gerbang agar diperbolehkan masuk.

Di dalam gerbang disediakan tempat duduk. Yang sebelah kanan untuk antrian online, sebelah kiri untuk walk-in dan manula. Berhubung tempat duduknya kurang, jadi banyak yang berdiri tidak sesuai antrian. Jam 8 kurang petugas mulai membagikan nomor urut. Mulai deh orang marah-marah karena merasa diserobot..huhuhu.. Setelah sampai ke depan petugas diperiksa dulu print out Tanda Terima Permohonannya apakah tanggal kedatangannya sudah sesuai, kemudian baru mendapatkan nomor, form Surat Pernyataan beserta map resmi untuk menyimpan dokumen-dokumen yang diperlukan. Setelah itu baru dipersilahkan naik ke atas untuk duduk dan menunggu nomor dipanggil. Sambil nunggu, isi Surat Pernyataan dan bubuhkan materai. Lumayan lama juga nunggunya, aku dapat nomor 49 dan baru dipanggil jam 10 lewat. (Sepertinya ada pemohon paspor hari sebelumnya yang baru diproses hari itu. Jadi memang sebaiknya datang lebih pagi agar cepat selesai dan tidak disuruh datang lagi besoknya).

Suasana ruang tunggu di Kanim Jakarta Timur

Suasana ruang tunggu di Kanim Jakarta Timur

 

Setelah dipanggil, datang ke loket yang disebutkan sesuai nomor. Di sini semua dokumen-dokumen akan diperiksa kelengkapannya. Ditanyakan juga bawa aslinya atau tidak. Nah, sewaktu lagi diperiksa ada mbak-mbak yang kebingungan karena dia salah memasukan data. Si mbak mau memperpanjang paspor tapi yang dipilih menunya buat paspor baru. Si petugas cuma menyalahkan si mbak dan bilang : “Lho, yang input datakan kan mbak sendiri, bukan kita. Berati mbak harus ulang prosesnya dari awal dan bayar lagi.” Langsung pucet deh si mbak.
Menurut aku sih ini keterlaluan, karena hal-hal seperti ini pasti banyak yang melakukan kesalahan dan harus ada solusi dari petugas dan sistemnya. Lagipula pada saat wawancara dan foto, kita juga diminta cek kembali oleh petugasnya (sambil lihat layar komputer) apa benar nama (terutama ejaan), alamat, tempat tanggal lahir yang sudah kita input sebelumnya. Berarti kan datanya masih bisa dirubah/diperbaiki.

Dari tempat pemeriksaan dokumen, kita diberikan nomor urut untuk foto dan wawancara. Nunggu lagi kurang lebih sejam. Setelah dipanggil, dokumen yang ada di map diperiksa dan discan. Nah kemarin itu aku lupa fotokopi paspor lama, untung mbak petugasnya baik ga nyuruh aku fotokopi lagi tapi dia pakai fotokopi internal yang ada diruangan. Mungkin si mbak kasihan ngeliat aku jalannya pincang hasil terpeleset di kamar mandi paginya…hihihi.. Setelah dokumen discan, nunggu lagi sebentar buat foto dan wawancara. Di sini bapak petugasnya baik banget dan cukup sabar sama anak-anak. Dia bahkan cerita ada anak yang mau difoto malah kabur ketakutan dan ga balik-balik lagi…. hahaha.. kasian banget orang tuanya. Oya kebetulan di situ ada bayi juga yang mau di foto. Umurnya baru sebulan, di fotonya sambil dipangku dan agak diberdirikan menghadap kamera.

Selesai foto dan wawancara pas jam 12.15. Pffiuuhh…. Pas banget. Jam 12 petugasnya pada istirahat makan siang dan antrian berhenti. Harusnya sih mereka gantian ya…
Anyway, paspornya jadi dalam waktu 3 hari kerja, tapi aku baru ambil seminggu lebih sesudahnya untuk mengantisipasi kalau-kalau paspornya belum jadi. Bawa bukti pembayaran bank untuk ambil paspornya.

Setelah paspornya jadi, tandatangan pada kotak yang ada pada halaman paling belakang menggunakan bolpen hitam, tapi bukan boxi. Pada paspor anak, kolom ini dicap “Unable To Sign”, jadi ga perlu tandatangan. Sedangkan pada bagian “Informasi Pemegang” diisi dengan menggunakan pensil 2B.

pizap.com14210460757471

Kesimpulannya :
– Buat paspor baik online masih gampang-gampang susah. Harus hati-hati waktu memilih pilihan dan memasukan data ke internet. Kalau salah panjang urusannya dan petugas terkesan lepas tangan dan hanya menyalahkan kita.
– Untuk pemohon walk-in harus pagi-pagi banget antrinya biar dapat nomor karena jumlah pemohonnya dibatasi (lebih sedikit dari pemohon online). Dan untuk paspor online, walaupun sudah pilih hari kedatangan tetapi harus pagi-pagi antri nomor biar bisa selesai foto dan wawancara di hari yang sama. Sebaiknya sih kalau paspor online begitu keluar Bukti Permohonan Paspor yang dikirim di email sudah langsung disertai nomor antrian dan kisaran jam kedatangannya. Jadi ga harus pagi-pagi banget antri, rebutan nomor dan marah-marah karena nomor antrian baru dibagi jam 8 kurang, sedangkan antrinya dari jam 6.
– Petugasnya ada yang baik ada pula yang jutek-jutek. Seharusnya para PNS yang melayani masyarakat ditraining seperti front-line nya bank yang manis-manis dan banyak senyum.
– Bebas calo.
– Ruang tunggunya nyaman, film yang diputar adalah “Just For Laugh”. Barangkali supaya yang bete nunggu atau mau marah jadi ketawa-ketawa ngeliat filmnya :)

Perpanjang SIM

Buka rahasia dikit nih.. Aku pertama kali punya SIM 20 tahun yang lalu. Tapiii… baru berani bawa mobil 19 tahun kemudian.. hahaha.. Parah banget!
Itu juga kepepet karena mau ga mau harus mengambil alih tugas bokap untuk anter jemput anak-anak sekolah. Udah disindir-sindir dari dulu setiap kali mau perpanjang SIM : “Perpanjang mulu.. tapi ga pernah mau bawa mobil!” Hihihi..

Anyway, sekarang aku mau cerita cara perpanjang SIM di Samsat Kebon Nanas. 5 tahun yang lalu aku perpanjang SIM di SIM Keliling. Cepat juga, tapi lumayan panas karena harus nunggu di tenda. Nah, kalau di Samsat Kebon Nanas, walaupun gedungnya tidak bagus tapi mending ada AC-nya dan proses pembuatannya juga cepat, kurang lebih 15 menit. Oya, gedung untuk membuat/memperpanjang SIM berbeda dengan tempat memperpanjang STNK ya. Untuk SIM gedungnya ada di sebelahnya. Di situ banyak diparkir mobil-mobil ringsek karena terlibat kecelakaan. Jadi di situ sama sekali ga ada tempat untuk parkir mobil, kalau bawa mobil parkirnya harus di gedung tempat perpanjang STNK.

Yang harus kita lakukan pertama adalah tes kesehatan. Pada saat tes kesehatan ternyata cuma dites buta warna atau tidak. Jadi disuruh baca angka-angka yang disusun dari bulatan-bulatan besar dan kecil yang berwarna. Tapi lucunya, ada garis menggunakan pulpen yang menelusuri angka yang dimaksud, jadinya yang buta warnapun kalau ngikutin garisnya tetap bisa baca angkanya. Entah ini disengaja atau tidak. Di sini kita dikenakan biaya Rp. 20.000,- dan mendapat lembaran kertas berwarna kuning hasil cek kesehatannya.

Dari tes kesehatan, langkah selanjutnya adalah menuju loket asuransi. Eitss.. tapi ntar dulu. Sebelum ke loket asuransi aku dicegat sama seorang bapak yang duduk di meja informasi di depan pintu. Di situ dimintain fotokopi KTP sama SIM lama masing-masing 2 lembar, dan fotokopian tersebut distaples sama kertas kuningnya sambil ditanyain : “Ibu mau bayar langsung di sini apa engga? Kalau bayar di sini jadi 145ribu, ibu tinggal duduk aja nanti tunggu dipanggil foto. Tapi kalau mau ngurus sendiri juga monggo kok bu..”, kata si Bapak sambil tersenyum manis. Weleh… ternyata calo ga ada, tapi tetap aja ada orang dalam yang cari-cari tambahan. Akhirnya aku pilih ngurus sendiri, toh sepi juga sambil pingin tau gimana sih sebenarnya prosesnya.

Jadi dari tes kesehatan, kita bisa langsung ke loket asuransi dan membayar Rp. 30.000,-. Dari loket asuransi selanjutnya diarahkan untuk menuju loket 1. Di sini dimintai lagi 1 lembar fotokopi KTP dan diberikan form untuk diisi. Biasalah, nama, alamat, tempat tanggal lahir, tinggi badan, pakai kacamata atau engga, dsb. Setelah form dikembalikan ke loket 1, tunggu dipanggil nama kita di loket 2. Setelah dipanggil, kita diwajibkan membayar Rp. 80.000,- dan diberikan secarik kertas untuk diserahkan ke tempat foto.

Di tempat foto, kalau bisa duduknya jangan jauh-jauh dari ruangan tempat foto biar kalau nama kita dipanggil kedengaran. Pas barengan aku ada anak muda yang ketika namanya dipanggil tidak mendengar. Bersungut-sungutlah bapak-bapak yang ada di dalam ruang foto..hehe..
Oya, kalau bisa jangan pakai kemeja berwarna biru karena latar belakang fotonya biru. Dan pada saat tandatangan, buatlah tandatangan sebesar mungkin karena ternyata tandatangan aku -yang perasaan sudah dibuat besar- tetap terlihat kecil di SIM-nya.

Setelah foto, tunggu dipanggil loket 3 untuk menerima hasil print-nya. Selesai. Jangan lupa difotokopi atau discan SIM barunya, biar kalau hilang ngurusnya gampang.

Jadi, sebenarnya cepat dan mudah banget memperpanjang SIM itu. Tapi menurutku, masih perlu diperbaiki lagi prosesnya terutama SDM-nya. Dari semua loket hanya bapak yang duduk di meja informasi saja yang sangat manis senyum dan tutur katanya, tapi ternyata ada maunya… hahaha.. Yang lain masih terlihat jutek dan ketus saat menyuruh-nyuruh kita lanjut ke loket berikutnya.

Kesimpulan :
1. Bawa fotokopi KTP 3 lembar dan fotokopi SIM 2 lembar (sebaiknya bawa lebih fotokopinya, siapa tau..)
2. Hindari menggunakan kemeja biru karena latar belakang fotonya biru.
3. Total pembuatan SIM A-ku Rp. 130.000,- (kalau jadi dibantuin sama bapak itu jadinya Rp. 165.000,-)
4. Jangan pakai sandal!

 

cara-memperpanjang-sim

Sakit gigi…oh, sakit gigi…

Belakangan ini sakit gigi geraham bungsu suamiku kambuh lagi. Sebenarnya sakitnya udah lama banget, lebih dari 3 tahun yang lalu udah mulai berasa sering sakit. Mau operasi gigi takut banget, ditahan-tahan sampai akhirnya sekarang menyerah..hehe..

Ngomong-ngomong tentang operasi gigi, jadi ingat pengalamanku operasi gigi kurang lebih 2.5 tahun yang lalu. Siapa sih yang gak takut dengar kata operasi, apalagi yang namanya operasi gigi?  Aku udah pernah ngalamin 2 kali operasi caesar dan 1 kali operasi angkat tumor jinak di payudara. Takutnya itu ga seperti takut waktu memutuskan untuk operasi gigi. Bahkan pada saat operasi angkat tumor ga pakai mikir lama-lama. Begitu positif kelihatan ada benjolan di payudara lewat USG, aku langsung browsing internet cari-cari rekomendasi dokter yang bagus, konsultasi ke dokter trus langsung bikin jadwal operasi. Operasinya dibius total, nginep semalam di RS trus besoknya pulang. Buka jahitan 10 hari kemudian. Puji Tuhan, tumornya jinak. Hati jadi lega, ga perlu berlama-lama kepikiran.

Ada sih teman yang menyarankan untuk cari pengobatan alternatif sebelum aku menjalani operasi, tapi dipikir-pikir lagi kalau pengobatan alternatif itu sembuhnya lama, perlu berbulan-bulan, minum obat, periksa, dsb. Lagi pula menurutku pengobatan alternatif itu cocok-cocokan, ada kemungkinan ga sembuh juga. Akhirnya aku pilih jalan operasi aja, cuma beberapa jam di meja operasi  (ga sadar juga, bangun-bangun udah di kamar), diangkat tumornya, beres. Biaya ditanggung kantor pula..hihi..

Nah, sekarang kembali ke sakit gigi. Begitu gigi geraham bungsuku udah sering sakit, aku ga tahan banget. Kalau kata Meggi Z, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati… asli itu bohong banget!
Setelah periksa ke dokter dan dilihat dari hasil foto panoramiknya memang ga ada jalan lain harus dicabut, kanan kiri pula… hadooohh. Kemudian aku coba googling baca pengalaman orang yang pernah operasi gigi geraham bungsu. Ada yang bilang sakit, ada yang bilang ga sakit… huaa.. mana nih yang benar.
Selain itu aku juga cari RS yang biaya operasinya murah, soalnya waktu itu kantor suami tidak meng-cover biaya untuk operasi gigi, sedangkan aku sudah resign dari kantor.  Di RS Swasta, operasi 1 gigi bisa 3 juta, 2 gigi berarti 6 juta… hiks.

Kembali deh googling. Ada yang sharing pengalaman operasi gigi geraham bungsu di RSCM, biayanya cuma 1 juta dan ga sakit katanya. Akhirnya aku coba datang ke RSCM bawa hasil foto panoramiknya. Dari pendaftaran aku minta ketemu dengan dokter bedah mulut, tapi ternyata ga bisa langsung ketemu dokter bedahnya, harus diperiksa dulu dengan dokter gigi kemudian diberi surat rujukan ke dokter bedah mulut. Setelah dapat rujukan, dokter bedahnya baru dipanggilin. Kebetulan dokter bedahnya ada. Jadi aku disuruh nunggu di depan ruang polikliknik gigi. Aduuhh, asli takut banget. Bukan karena takut mau dioperasi, tapi pemandangan di sekitarku yang bikin takut. Ada bapak-bapak yang baru cabut gigi, kira-kira udah setengah jam darahnya masih keluar. Beliau juga kelihatan kesakitan. Ada lagi yang pipinya ada benjolan gede, mungkin tumor. Pokoknya orang-orang yang nunggu di sana kelihatannya susah, menderita banget, pakai perban sana-sini… huaa.. bikin semangat jadi down. Akhirnya aku bilang ke suamiku kalau aku mau pulang aja, batal operasi gigi di RSCM, mendingan bayar 6 juta aja…huhuhu.. Bodo amat deh ntar dokter bedahnya datang aku udah ga ada..hihi..

Singkat cerita, akhirnya aku memutuskan operasi di Carolus. Benar aja, biayanya 3 jutaan untuk 1 gigi. Aku nanya ke dokternya, “Bisa kurang ga biayanya, dok?” #nekad nawar
Akhirnya sama dokternya biaya konsultasinya dihapus sekitar 300rb-an.. lumayan.. hihi..
Rencananya operasi 2 gigi kanan kiri sekaligus.

Di hari H, aku duduk manis di depan ruangan dokternya. Pemandangan di sini beda banget sama di RSCM. Banyak pasien tapi ga ada muka susah, sakit, dsb. Yang pakai kursi roda juga tampangnya biasa aja.. hahaha…
Berhubung suamiku langsung dari kantor, jadi datangnya telat. Aku sudah pesan, kalau sudah datang langsung aja masuk ke ruangan dokter.

Setelah dipanggil sama susternya, masuklah aku ke ruangan dan duduk di kursi tempat periksa gigi. Yang dioperasi gigi geraham kanan terlebih dahulu. Gigi ini sudah gerompal jadi agak susah untuk dicabut, harus dipotong-potong terlebih dahulu. Mulai deh sang dokter menyuntikkan obat bius ke gusiku di beberapa tempat. Sakiiitt bo..
Mulai dari sini tanganku udah gemetaran sambil pegangin tissue. Trus gigiku diketok-ketok.

“Sakit ga?”, tanya dokter

“Engga dok.”

“Di sini?” sambil ngetok-ngetok lagi.

“Engga dok.”

“Kalau gitu kita mulai ya.”

Aku diam aja, pasrah.

Mulai deh, semua peralatan masuk ke dalam mulutku. Aku merem aja, cuma kedengaran suara : ngiingg.. grek.. grek..
Mulut serasa di obok-obok, ga enak banget. Walaupun dibius, masih berasa kalau dokter berusaha mencongkel gigiku. Rasanya sakit sampai ke telinga.. bukan sakit banget sih, tapi tetep aja berasa sakit dan akupun jerit-jerit.

“Lho, sakit?”, tanya dokternya

“Hhhh..”, sambil ngangguk.

“Coba disuntik lagi.”

Hiyyaaa… cuma bisa pasrah.

Tunggu berapa menit, trus dokternya mulai lagi.

“Huaaaa…!! hakit hok!” (sakit dok)

“Kok masih sakit? Ditahan ya, bu.”

Hadoohh.. disuruh nahan sakit lagi. Akhirnya kurang lebih setengah jam berlalu, operasinya selesai. Duh.. baru selesai 1 gigi masih kurang 1 lagi. Udah pingin nangis aja deh.. Tapi ternyata dokternya bilang :

“Bu, cukup ya 1 gigi aja dulu. Yang 1 lain kali aja. Soalnya ibu udah stress banget.”

Bener aku udah stress berat, tangan ga berhenti gemetaran dari tadi. Huaahahaa.. antara lega dan tidak. Berarti masih harus menjalani seperti ini lagi dari awal dong…

Keluar dari ruangan dokter, aku lihat suamiku duduk manis di luar. Aku langsung nangis. Bukan karena sakit, tapi asli sebeeellll banget.. Bukannya masuk nemenin istrinya malah duduk aja di luar. Alasannya, ga enak ngetok-ngetok minta masuk. Air mataku ga bisa berhenti, sangking sebelnya. Orang-orang yang ngeliatin pasti mikir aku kesakitan karena habis dicabut giginya. Hahaha… mudah-mudahan ga ada orang yang batal ke dokternya gara-gara ngeliat aku nangis..

Setelah dicabut, bengkaklah pipiku sebelah kanan bawah sampai ke leher. Ga bisa makan, giginya ga boleh disikat hanya boleh kumur-kumur aja. Tersiksa banget. Setelah 3 hari bosen makan bubur, mulai deh makan nasi lembek. Itupun hanya mengunyah menggunakan gigi bagian kiri. Untung deh ga jadi cabut dua-duanya, bisa ga makan sama sekali. Mulut juga ga bisa dibuka lebar-lebar.

13941544818031

Tepat seminggu, balik lagi ke dokter untuk buka jahitan.

“Ayo, mulutnya dibuka.”

“Aaa..” Cuma kebuka sedikit.

“Lho, kok ga bisa dibuka? Ayo buka yang lebar, gak boleh nih seperti ini.”

“Ga bisa, dok”

“Bisa, sini saya bantu.”

Lalu dibukalah mulutku oleh dokter pakai 2 tangan, seperti pawang singa membuka mulut singa.

“Hwwaaaa…..” aku langsung teriak. Tapi berasa di rahang bunyi: glek. Seketika itu mulai berasa enteng untuk membuka mulut. Belum bisa lebar banget, tapi lebih mending daripada sebelumnya.

“Mulutnya dilatih dibuka-buka ya.. Nanti kalau engga ga bisa buka mulut terus loh..”, kata dokternya.

“ii..iya, dok.” Masih syok.

Sret..sret.. dibukalah jahitannya.

“Nanti gigi yang satunya terserah ibu mau balik lagi kapan.”

In your dream, dok.. Kataku dalam hati.

Kapok banget deh, yang namanyanya operasi gigi. Tapi masih ada 1 gigi lagi yang bermasalah. Mudah-mudahan dia jadi behave setelah melihat temannya dicabut :D