Archives

Penasaran Sama Restoran Pringsewu

Dari Baturraden, perjalanan selanjutnya adalah menuju kota Yogyakarta. Kami makan siang di Restoran Pringsewu. Bagi yang belum pernah makan di sini atau baru pertama kali berkendara menuju Jawa Tengah/Jawa Timur lewat jalur selatan pasti penasaran sama restoran ini, karena banyaknya papan reklame yang dipasang di jalan. Bahkan papan reklamenya sudah ada 50km sebelum restorannya. Macam-macam pula kata-katanya: xxkm Es Kelapa Muda Restoran Pringsewu, xxkm Mushola Restoran Pringsewu, xxkm Ruang Laktasi/Menyusui, xxkm Ada Sulap Setiap Hari, Ulang Tahun dirayakan di Pringsewu, Tempat Parkir Luas, dll. Pokoknya ada aja deh kalimatnya. Restoran ini bahkan masuk MURI karena iklan terpanjangnya or something like that.

iklan-pringsewu

 

Nah, saya dan suami salah satu korban iklannya. Karena penasaran, akhirnya kami mencoba Restoran Pringsewu yang ada di Sumpiuh. Dari sudut pelayanannya memang oke. Begitu kami keluar dari mobil langsung dipayungin. Halah.. padahal parkirnya udah sengaja di bawah pohon biar teduh tetep aja dipayungin. Setelah order makanan, kami ditanyakan apakah ada dari anggota keluarga yang berulang tahun. Kami jawab tidak ada. Sambil menunggu makanan, anak-anak dihibur dengan fasilitas yang ada di sana, seperti magic mirror dan diajak bermain kartu ajaib sama mbak-mbaknya.

14156698478001

Ketika kami sedang makan, tiba-tiba terdengar musik “Selamat Ulang Tahun”, ooh ternyata meja sebelah kami ada yang berulang tahun. Rame banget dah musiknya, pakai angklung, kulintang, rebana. Dan yang berulang tahun dapat es kelapa batok plus kembang api kecil di atasnya.

Selesai makan, kami diberikan questioner dan dapat voucher makan untuk kunjungan berikutnya. Rasa makanannya sendiri sih biasa aja, harganya agak mahal mungkin buat biaya service dan biaya pasang iklan. Aku dan suami sih ga mau makan di Resto ini lagi. Not value for money.

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, tepatnya di Banjar, kami harus menelan kembali kata-kata kami…hehe.. Anak-anak minta makan di Pringsewu lagi karena terpikir banyak mainannya. Ya sudahlah.. kasian juga mereka seharian di mobil. Tapi ternyata pelayananannya jauh berbeda. Di sana -kebetulan lagi bulan puasa- menunya tidak banyak. Cara memesannya juga berbeda, kita pilih-pilih makanan yang sudah disajikan di piring-piring dan bayar di kasir. Untung sebelum pilih makanan aku tanya-tanya dulu harganya. Ayam 1 potong (paha/dada) harganya 25rb, 1 ekor gurami kecil (buat porsi 1 orang) 90rb. Haiikkss… semakin menetapkan hati untuk tidak makan di Pringsewu lagi. Dan aseli rasa makanannya ga enak banget, mungkin karena tidak fresh disajikannya.

Oya, sedikit info, kalau lewat sekitar Sumpiuh ada Gurame Bakar Kecap yang maknyus banget, nama restorannya Waroeng Djoglo. Dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta, kami mencoba makan di tempat ini. Restorannya bergaya Joglo, tempat parkirnya juga luas. Kami makan ikan Gurame Bakar Kecap yang jadi andalannya. Harganya murah banget, cuma 52rb untuk ikan gurame seberat 8 ons. Nah kalau ini benar-benar value for money. Suami bahkan ngajak makan di sini lagi kapan-kapan..hihi.. jauh banget yak.

waroeng-djoglo