Harris Festival Citylink Bandung

Harris lagi.. Harris lagi…hihi… Yup, suka banget nginep di Harris. Disamping warna hotelnya yang cerah -Putih, Oranye, Hijau-, desain kamarnya yang minimalis, spreinya putih, trus ada bangku panjangnya -lumayan jadi tempat tidur tambahan-, dan sukaa banget sama sandal oranye-nya *kudu dibawa pulang*..hehe..

Tapi sebenarnya sebab utama milih nginep di sini adalah karena kami mau nonton Mr. Peabody & Sherman yang kebetulan lagi diputar di bioskop XXI Mall Festival Citylink (di Jakarta ga sempat nonton karena nungguin si kakak selesai ulangan harian), jadinya kami pilih hotel yang dekat sekalian dengan bioskop.

Mall Festival Citylink ini terletak di daerah Pasir Koja dan tersambung dengan 2 hotel, yaitu Harris Hotel dan Pop Hotel. Kami pilih menginap di Harris karena mengincar kamar yang lebih luas seperti kamar Harris yang di kota Malang. Tapi ternyata kamar yang kami pesan di Harris Festival Citylink ini tidak terlalu besar, kamar mandinya pun sempit. Pemandangan dari kamar hotelnya juga ga bagus.

 

Harris Room.  Dari kaca elips di tembok itu kita bisa lihat ke dalam showernya. Agak kurang nyaman jadinya kalau sekamar dengan orang yang bukan keluarga.

Harris Room.
Dari kaca elips di tembok itu kita bisa lihat ke dalam showernya. Agak kurang nyaman jadinya kalau sekamar dengan orang yang bukan keluarga.

 

Bad window view :(

Bad window view :(

 

Meskipun demikian, ada enaknya juga menginap di Harris terutama yang bawa anak-anak karena hotel ini punya akses langsung menuju mall. Kebetulan anakku pada picky eater, jadi selamet deh kalau ketemu mall. Tinggal beliin KFC, HokBen atau Solaria, yang penting mereka makan kenyang biar ga masuk angin dibawa jalan-jalan.. hehe.. Trus ada bioskopnya juga.. jadi yang mau nonton sampai malam atau midnight pulangnya tinggal jalan kaki masuk hotel.

Untuk kolam renangnya tidak terlalu besar, kurang lebih ukuran 4 x 20 m2. Terbagi dua, kolam anak (dalamnya 0,6m) dan kolam dewasa (dalamnya 1,2m). Kolam renangnya dibatasi kaca dengan lobby jadi agak kurang nyaman.

Harris Pool.

Harris Pool.

 

Pemandangan dari Lobby.. bisa sambil cuci mata :D

Pemandangan dari Lobby.. bisa sambil cuci mata :D

 

Secara keseluruhan, pengalaman menginap di Harris Bandung ini cukup menyenangkan. Meskipun kamar yang kami dapat tidak seperti yang dibayangkan (kurang luas), tetapi kebersihan dan kenyamanannya tetap terjaga. Kami juga minta non-smoking floor, dan itulah yang didapat :)

Kesimpulan : Menginap di Harris ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya :

  • Kamarnya nyaman dan bersih, staffnya juga ramah
  • Ada akses hotel dengan Mall Festival Citylink, bisa jalan-jalan sampai mall-nya tutup. Mau cari makanan atau cemilan bisa ke Food Court atau ke Lotte Mart. Ada bioskopnya juga.
  • Parkir kena flat charge Rp. 10.000,- selanjutnya keluar masuk ga perlu bayar lagi dari check in sampa check out.
  • Ada Dino Kid’s Club. Yang bawa anak pasti anaknya senang dengan kegiatan di sini, tentunya ada biaya tambahan lagi yang harus dibayar.
  • Dekat dengan gerbang tol Pasir Koja

Kekurangannya :

  • Kamarnya tidak terlalu besar, kamar mandinya kecil. Pemandangan kota Bandungnya kurang bagus.
  • Kolam renangnya kecil, bersebelahan dengan Lobby jadi agak kurang nyaman.
  • Yang senang cari-cari makan di luar atau lihat-lihat FO di sekitaran hotel siap-siap kecewa.
  • Bila tujuannya berwisata ke Bandung Utara seperti Dago atau Lembang, sebaiknya jangan menginap di sini karena lokasinya cukup jauh belum lagi macetnya.

Sakit gigi…oh, sakit gigi…

Belakangan ini sakit gigi geraham bungsu suamiku kambuh lagi. Sebenarnya sakitnya udah lama banget, lebih dari 3 tahun yang lalu udah mulai berasa sering sakit. Mau operasi gigi takut banget, ditahan-tahan sampai akhirnya sekarang menyerah..hehe..

Ngomong-ngomong tentang operasi gigi, jadi ingat pengalamanku operasi gigi kurang lebih 2.5 tahun yang lalu. Siapa sih yang gak takut dengar kata operasi, apalagi yang namanya operasi gigi?  Aku udah pernah ngalamin 2 kali operasi caesar dan 1 kali operasi angkat tumor jinak di payudara. Takutnya itu ga seperti takut waktu memutuskan untuk operasi gigi. Bahkan pada saat operasi angkat tumor ga pakai mikir lama-lama. Begitu positif kelihatan ada benjolan di payudara lewat USG, aku langsung browsing internet cari-cari rekomendasi dokter yang bagus, konsultasi ke dokter trus langsung bikin jadwal operasi. Operasinya dibius total, nginep semalam di RS trus besoknya pulang. Buka jahitan 10 hari kemudian. Puji Tuhan, tumornya jinak. Hati jadi lega, ga perlu berlama-lama kepikiran.

Ada sih teman yang menyarankan untuk cari pengobatan alternatif sebelum aku menjalani operasi, tapi dipikir-pikir lagi kalau pengobatan alternatif itu sembuhnya lama, perlu berbulan-bulan, minum obat, periksa, dsb. Lagi pula menurutku pengobatan alternatif itu cocok-cocokan, ada kemungkinan ga sembuh juga. Akhirnya aku pilih jalan operasi aja, cuma beberapa jam di meja operasi  (ga sadar juga, bangun-bangun udah di kamar), diangkat tumornya, beres. Biaya ditanggung kantor pula..hihi..

Nah, sekarang kembali ke sakit gigi. Begitu gigi geraham bungsuku udah sering sakit, aku ga tahan banget. Kalau kata Meggi Z, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati… asli itu bohong banget!
Setelah periksa ke dokter dan dilihat dari hasil foto panoramiknya memang ga ada jalan lain harus dicabut, kanan kiri pula… hadooohh. Kemudian aku coba googling baca pengalaman orang yang pernah operasi gigi geraham bungsu. Ada yang bilang sakit, ada yang bilang ga sakit… huaa.. mana nih yang benar.
Selain itu aku juga cari RS yang biaya operasinya murah, soalnya waktu itu kantor suami tidak meng-cover biaya untuk operasi gigi, sedangkan aku sudah resign dari kantor.  Di RS Swasta, operasi 1 gigi bisa 3 juta, 2 gigi berarti 6 juta… hiks.

Kembali deh googling. Ada yang sharing pengalaman operasi gigi geraham bungsu di RSCM, biayanya cuma 1 juta dan ga sakit katanya. Akhirnya aku coba datang ke RSCM bawa hasil foto panoramiknya. Dari pendaftaran aku minta ketemu dengan dokter bedah mulut, tapi ternyata ga bisa langsung ketemu dokter bedahnya, harus diperiksa dulu dengan dokter gigi kemudian diberi surat rujukan ke dokter bedah mulut. Setelah dapat rujukan, dokter bedahnya baru dipanggilin. Kebetulan dokter bedahnya ada. Jadi aku disuruh nunggu di depan ruang polikliknik gigi. Aduuhh, asli takut banget. Bukan karena takut mau dioperasi, tapi pemandangan di sekitarku yang bikin takut. Ada bapak-bapak yang baru cabut gigi, kira-kira udah setengah jam darahnya masih keluar. Beliau juga kelihatan kesakitan. Ada lagi yang pipinya ada benjolan gede, mungkin tumor. Pokoknya orang-orang yang nunggu di sana kelihatannya susah, menderita banget, pakai perban sana-sini… huaa.. bikin semangat jadi down. Akhirnya aku bilang ke suamiku kalau aku mau pulang aja, batal operasi gigi di RSCM, mendingan bayar 6 juta aja…huhuhu.. Bodo amat deh ntar dokter bedahnya datang aku udah ga ada..hihi..

Singkat cerita, akhirnya aku memutuskan operasi di Carolus. Benar aja, biayanya 3 jutaan untuk 1 gigi. Aku nanya ke dokternya, “Bisa kurang ga biayanya, dok?” #nekad nawar
Akhirnya sama dokternya biaya konsultasinya dihapus sekitar 300rb-an.. lumayan.. hihi..
Rencananya operasi 2 gigi kanan kiri sekaligus.

Di hari H, aku duduk manis di depan ruangan dokternya. Pemandangan di sini beda banget sama di RSCM. Banyak pasien tapi ga ada muka susah, sakit, dsb. Yang pakai kursi roda juga tampangnya biasa aja.. hahaha…
Berhubung suamiku langsung dari kantor, jadi datangnya telat. Aku sudah pesan, kalau sudah datang langsung aja masuk ke ruangan dokter.

Setelah dipanggil sama susternya, masuklah aku ke ruangan dan duduk di kursi tempat periksa gigi. Yang dioperasi gigi geraham kanan terlebih dahulu. Gigi ini sudah gerompal jadi agak susah untuk dicabut, harus dipotong-potong terlebih dahulu. Mulai deh sang dokter menyuntikkan obat bius ke gusiku di beberapa tempat. Sakiiitt bo..
Mulai dari sini tanganku udah gemetaran sambil pegangin tissue. Trus gigiku diketok-ketok.

“Sakit ga?”, tanya dokter

“Engga dok.”

“Di sini?” sambil ngetok-ngetok lagi.

“Engga dok.”

“Kalau gitu kita mulai ya.”

Aku diam aja, pasrah.

Mulai deh, semua peralatan masuk ke dalam mulutku. Aku merem aja, cuma kedengaran suara : ngiingg.. grek.. grek..
Mulut serasa di obok-obok, ga enak banget. Walaupun dibius, masih berasa kalau dokter berusaha mencongkel gigiku. Rasanya sakit sampai ke telinga.. bukan sakit banget sih, tapi tetep aja berasa sakit dan akupun jerit-jerit.

“Lho, sakit?”, tanya dokternya

“Hhhh..”, sambil ngangguk.

“Coba disuntik lagi.”

Hiyyaaa… cuma bisa pasrah.

Tunggu berapa menit, trus dokternya mulai lagi.

“Huaaaa…!! hakit hok!” (sakit dok)

“Kok masih sakit? Ditahan ya, bu.”

Hadoohh.. disuruh nahan sakit lagi. Akhirnya kurang lebih setengah jam berlalu, operasinya selesai. Duh.. baru selesai 1 gigi masih kurang 1 lagi. Udah pingin nangis aja deh.. Tapi ternyata dokternya bilang :

“Bu, cukup ya 1 gigi aja dulu. Yang 1 lain kali aja. Soalnya ibu udah stress banget.”

Bener aku udah stress berat, tangan ga berhenti gemetaran dari tadi. Huaahahaa.. antara lega dan tidak. Berarti masih harus menjalani seperti ini lagi dari awal dong…

Keluar dari ruangan dokter, aku lihat suamiku duduk manis di luar. Aku langsung nangis. Bukan karena sakit, tapi asli sebeeellll banget.. Bukannya masuk nemenin istrinya malah duduk aja di luar. Alasannya, ga enak ngetok-ngetok minta masuk. Air mataku ga bisa berhenti, sangking sebelnya. Orang-orang yang ngeliatin pasti mikir aku kesakitan karena habis dicabut giginya. Hahaha… mudah-mudahan ga ada orang yang batal ke dokternya gara-gara ngeliat aku nangis..

Setelah dicabut, bengkaklah pipiku sebelah kanan bawah sampai ke leher. Ga bisa makan, giginya ga boleh disikat hanya boleh kumur-kumur aja. Tersiksa banget. Setelah 3 hari bosen makan bubur, mulai deh makan nasi lembek. Itupun hanya mengunyah menggunakan gigi bagian kiri. Untung deh ga jadi cabut dua-duanya, bisa ga makan sama sekali. Mulut juga ga bisa dibuka lebar-lebar.

13941544818031

Tepat seminggu, balik lagi ke dokter untuk buka jahitan.

“Ayo, mulutnya dibuka.”

“Aaa..” Cuma kebuka sedikit.

“Lho, kok ga bisa dibuka? Ayo buka yang lebar, gak boleh nih seperti ini.”

“Ga bisa, dok”

“Bisa, sini saya bantu.”

Lalu dibukalah mulutku oleh dokter pakai 2 tangan, seperti pawang singa membuka mulut singa.

“Hwwaaaa…..” aku langsung teriak. Tapi berasa di rahang bunyi: glek. Seketika itu mulai berasa enteng untuk membuka mulut. Belum bisa lebar banget, tapi lebih mending daripada sebelumnya.

“Mulutnya dilatih dibuka-buka ya.. Nanti kalau engga ga bisa buka mulut terus loh..”, kata dokternya.

“ii..iya, dok.” Masih syok.

Sret..sret.. dibukalah jahitannya.

“Nanti gigi yang satunya terserah ibu mau balik lagi kapan.”

In your dream, dok.. Kataku dalam hati.

Kapok banget deh, yang namanyanya operasi gigi. Tapi masih ada 1 gigi lagi yang bermasalah. Mudah-mudahan dia jadi behave setelah melihat temannya dicabut :D

Penitipan Mobil di Bandara Soekarno-Hatta

Mau share sedikit pengalaman menitipkan mobil di Bandara Soekarno-Hatta.

Berhubung kami pergi dengan bawaan yang lumayan banyak, agak repot juga bila harus naik taksi atau bus Damri, apalagi bawa anak-anak. Pulang kembali ke Jakarta juga dapat pesawat yang malam. Jadilah aku dan suami cari-cari info di internet tentang penitipan mobil di Bandara Soekarno-Hatta. Sejauh yang kami baca dari hasil googling, sepertinya lumayan aman.

Sekarang mobil bisa diparkir di mana saja di area parkir bandara. Ga perlu khusus di tempat penitipan mobilnya. Kalau masih kurang percaya keamanannya, ya silahkan parkir di tempat khususnya.. tapi tempatnya agak jauh, walaupun ada shuttle car yang akan mengantar/jemput kita dari dan ke terminal keberangkatan/kedatangan.

Suamiku parkir pas di depan Terminal 1C, jadi bukan di tempat khusus penitipan mobil. Lebih dekat dengan pintu check-in, tinggal nyebrang aja. Ditinggal selama 4 malam 5 hari. Puji Tuhan, mobilnya aman-aman aja :D

Tarif parkirnya adalah 20 ribu/6 jam pertama, per jam berikutnya 2 ribu.  Lamanya kami menitipkan mobil adalah 106 jam, jadi yang harus dibayarkan adalah 220 ribu. Lebih murah bila dibandingkan naik taksi atau naik bus Damri (yang harus nyambung taksi lagi ke rumah).

penitipan-mobil-bandara-soekarno-hatta

Tips parkir :

  1. Jangan meninggalkan barang berharga di dalam mobil.
  2. Bawa kunci pengaman mobil tambahan.
  3. Bawa selimut mobil, untuk mencegah orang liat-liat ke dalam mobil

 

Update info :

Per 1 Maret 2015, area penitipan mobil sudah dipisahkan dari area parkir reguler. Ada 2 area penitipan mobil, yaitu di antara Terminal 1 dan 2 (ex pool taxi) dan di Terminal 3. Tarifnyapun sudah naik yaitu Rp. 4.000 untuk 1 jam pertama dan Rp. 3.000 untuk setiap jam selanjutnya. Jangan lupa serahkan struk parkir umum ke petugas jaga untuk diganti selembar kertas tanda terima berikut jam masuknya.