Hotel Puri Chorus – Yogyakarta

Sampai di Yogyakarta sudah malam, sekitar jam 7.30-an. Kami cari makan dulu sebelum masuk hotel. Agak deg-degan juga sih sama hotelnya karena pengalaman di hotel Baturraden semalam. (Sebelum road trip, aku browsing-browsing dulu cari hotel di Yogyakarta, dan ketemulah hotel Puri Chorus yang dari foto dan hasil ulasannya bagus, harganya juga murah.) Sampai di hotel, waahh.. ternyata hotelnya bersih dan baguuss. Kamarnya juga luas. Hotel ini terletak di Jl. Samirono Baru, Gejayan. Patokannya di sebelah PLN Gejayan ada belokan. Langsung masuk aja ke dalam dan letaknya kurang lebih 50m, jadi tidak di pinggir jalan.

Hotel ini terbagi menjadi 2 bangunan. Bangunan pertama terletak kira-kira 20m dari bangunan ke-2. Bangunan pertama hanya ada 2 tingkat, sedangkan bangunan ke-2 ada 3 tingkat -kalau ga salah- dan ada minimarket di depannya. Aku booking 2 kamar standar, tapi 1 kamar diupgrade menjadi business suite karena kamar standarnya penuh, tanpa kena tambahan biaya lagi. Tempat parkirnya ada, namun tidak terlalu luas dan kelihatannya aman karena ada satpamnya.

Hotel-Puri-Chorus-Yogyakarta

Tampak depan bangunan 1 Hotel Puri Chorus

Puri-Chorus-Yogyakarta

Lobi sekaligus ruang makan di bangunan 1 hotel Puri Chorus Yogyakarta

 

Business Suite Room.

Business Suite Room

 

Business Suite Room

Business Suite Room

 

Kamar mandi Business Suite Room

Kamar mandi Business Suite Room

 

Tampak depan bangunan 2 Puri Chorus Yogyakarta

Tampak depan bangunan 2 Hotel Puri Chorus

 

Standard Room, terletak di bangunan kedua. Luas dan ada lemari esnya juga. Hanya TV nya masih TV tabung.

Standard Room, terletak di bangunan kedua. Luas dan ada lemari esnya juga.

 

Standard Room

Standard Room

 

Untuk makan paginya emang standar banget. Kami menginap 2 malam 3 hari. Hari pertama menunya nasi ayam goreng. Hari kedua menunya nasi goreng dan telur. Hari ketiga balik lagi nasi ayam goreng. Makanannya disajikan sudah di piring, jadi bukan prasmanan. Sekedar tips, sebaiknya jangan laundry ke hotel ini karena akan di-outsource ke tempat lain a.k.a laundry kiloan. Aku sempat laundry-in beberapa kaos anak-anak dan hasilnya warna langsung pada bule semua, sedangkan kaos yang berwarna putih malah jadi abu-abu…haikkss.

Tapi secara keseluruhan, hotel ini sangat recommended untuk tetap meningap di Yogyakarta. Selain harganya murah, kamarnya juga bagus, luas dan bersih. Sayang tidak ada kolam renangnya.

tarif-hotel-puri-chorus-yogya

 

Penasaran Sama Restoran Pringsewu

Dari Baturraden, perjalanan selanjutnya adalah menuju kota Yogyakarta. Kami makan siang di Restoran Pringsewu. Bagi yang belum pernah makan di sini atau baru pertama kali berkendara menuju Jawa Tengah/Jawa Timur lewat jalur selatan pasti penasaran sama restoran ini, karena banyaknya papan reklame yang dipasang di jalan. Bahkan papan reklamenya sudah ada 50km sebelum restorannya. Macam-macam pula kata-katanya: xxkm Es Kelapa Muda Restoran Pringsewu, xxkm Mushola Restoran Pringsewu, xxkm Ruang Laktasi/Menyusui, xxkm Ada Sulap Setiap Hari, Ulang Tahun dirayakan di Pringsewu, Tempat Parkir Luas, dll. Pokoknya ada aja deh kalimatnya. Restoran ini bahkan masuk MURI karena iklan terpanjangnya or something like that.

iklan-pringsewu

 

Nah, saya dan suami salah satu korban iklannya. Karena penasaran, akhirnya kami mencoba Restoran Pringsewu yang ada di Sumpiuh. Dari sudut pelayanannya memang oke. Begitu kami keluar dari mobil langsung dipayungin. Halah.. padahal parkirnya udah sengaja di bawah pohon biar teduh tetep aja dipayungin. Setelah order makanan, kami ditanyakan apakah ada dari anggota keluarga yang berulang tahun. Kami jawab tidak ada. Sambil menunggu makanan, anak-anak dihibur dengan fasilitas yang ada di sana, seperti magic mirror dan diajak bermain kartu ajaib sama mbak-mbaknya.

14156698478001

Ketika kami sedang makan, tiba-tiba terdengar musik “Selamat Ulang Tahun”, ooh ternyata meja sebelah kami ada yang berulang tahun. Rame banget dah musiknya, pakai angklung, kulintang, rebana. Dan yang berulang tahun dapat es kelapa batok plus kembang api kecil di atasnya.

Selesai makan, kami diberikan questioner dan dapat voucher makan untuk kunjungan berikutnya. Rasa makanannya sendiri sih biasa aja, harganya agak mahal mungkin buat biaya service dan biaya pasang iklan. Aku dan suami sih ga mau makan di Resto ini lagi. Not value for money.

Dalam perjalanan kembali ke Jakarta, tepatnya di Banjar, kami harus menelan kembali kata-kata kami…hehe.. Anak-anak minta makan di Pringsewu lagi karena terpikir banyak mainannya. Ya sudahlah.. kasian juga mereka seharian di mobil. Tapi ternyata pelayananannya jauh berbeda. Di sana -kebetulan lagi bulan puasa- menunya tidak banyak. Cara memesannya juga berbeda, kita pilih-pilih makanan yang sudah disajikan di piring-piring dan bayar di kasir. Untung sebelum pilih makanan aku tanya-tanya dulu harganya. Ayam 1 potong (paha/dada) harganya 25rb, 1 ekor gurami kecil (buat porsi 1 orang) 90rb. Haiikkss… semakin menetapkan hati untuk tidak makan di Pringsewu lagi. Dan aseli rasa makanannya ga enak banget, mungkin karena tidak fresh disajikannya.

Oya, sedikit info, kalau lewat sekitar Sumpiuh ada Gurame Bakar Kecap yang maknyus banget, nama restorannya Waroeng Djoglo. Dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta, kami mencoba makan di tempat ini. Restorannya bergaya Joglo, tempat parkirnya juga luas. Kami makan ikan Gurame Bakar Kecap yang jadi andalannya. Harganya murah banget, cuma 52rb untuk ikan gurame seberat 8 ons. Nah kalau ini benar-benar value for money. Suami bahkan ngajak makan di sini lagi kapan-kapan..hihi.. jauh banget yak.

waroeng-djoglo

Jalan-jalan ke Baturraden

Yeaaayy… Finally, our very first long road trip!
Berhubung anak-anak lagi libur sekolah dan si papa bisa libur panjang karena pindahan kerja, akhirnya kami bisa jalan-jalan menuju ke Yogyakarta naik mobil. Rencananya sih pingin 10 harian, tapi berhubung tgl 9 Juli ada pilpres, jadinya liburnya dipangkas jadi 8 hari. Kami berangkat dari Jakarta tgl 1 Juli. Tujuan pertamanya adalah ke Baturraden, Purwokerto. Dari rumah berangkat sekitar jam 9-an dan sampai di Baturraden jam 7 malam.

Liburan sekolah ini bertepatan dengan bulan puasa, jadi jalanan tidak terlalu ramai. Untungnya sepanjang perjalanan, tidak susah mencari makan. Banyak rumah makan yang tetap buka walau ditutup-tutupin pintu atau etalase-nya. Kami juga berkendara dengan santai. Kalau capek berhenti dulu di pom bensin, anak-anak beli snack dan kemudian lanjut jalan lagi.

Aku ga booking hotel di Baturraden, karena rencananya pingin go-show. Tapi ternyata sampai di sana sudah malam (sebelum cari hotel, kami makan malam dulu) dan hujan pula. Akhirnya berbekal foto di internet akan salah satu hotel yang kelihatan luas tempat tidurnya (kayak di Savoy Homan, double king size) kami mampir di hotel tersebut. Namanya Hotel Moroseneng. Bener sih tempat tidurnya double king size, tapi ruangannya biasa (hotel melati). Kamar mandi jelek, flush toiletnya ga jalan. Hadooh… mana udah cape banget, males liat-liat hotel lainnya. Akhirnya minta kamar yang lain.

Di kamar berikutnya langsung periksa kamar mandinya. Aman… semua bisa berfungsi, tapi tempat tidurnya cuma 1 queen size. Gapapa lah, akhirnya kami ambil kamar tersebut. Minta 1 extra bed ternyata eh, extra bednya digelar di lantai. Begitu mau mandi, taraaaa… pintunya ga ada kuncinya dan selalu terbuka terus, kudu diganjel pakai bolpen. Daannn… sewaktu mau tidur baru liat kalau spreinya dan bantalnya warnanya sudah abu-abu! Hiiii…. Anak-anak sih ga peduli langsung pada tidur, tapi aku jijik banget. Buat taruh kepala, aku alasin bantalnya pakai mantel. Sampai-sampai aku ngimpi kutuan. Paraahh… Udah gitu sempet mati lampu pula sekitar 20 menitan. Alhasil di kamar gelap banget.

Besok paginya kami sarapan dan melihat-lihat area sekitar hotel ini. Ternyata hotel ini lumayan luas dan banyak kamarnya. Tamu-tamunya juga banyak, telihat dari banyaknya mobil yang diparkir. Mungkin kami kebetulan dapat kamar sisa-sisa yang jelek.. hihi.. Anyway, tetep aja never again nginep di sini.

Selanjutnya kami berwisata ke air terjun Baturraden. Terakhir ke tempat ini aku masih SD, jadi sudah banyak banget perubahannya. Sekarang tempatnya bagus dan dikelola dengan baik. Untuk masuk ke area wisata dikenakan tiket Rp. 8.000,-/orang. Pemandangannya bagus banget dan di dalamnya tersedia beberapa wahana yang bisa dinikmati oleh anak-anak.

pemandangan-baturraden

pemandangan-baturraden1

wisata-baturraden

4234546564

Selain itu terdapat juga obyek wisata berupa sumber air panas yang namanya Pancuran 3 (Pancuran Telu) di area Lokawisata Baturraden ini. Jaraknya kurang lebih 300m dari tempat kami berfoto di batu2an dan jalannya menanjak. Untuk masuk ke sana dikenakan HTM Rp. 7.500,-/orang. Dinamakan Pancuran 3 karena di sini ada terdapat 3 pancuran air panas yang mengandung belerang dan dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.

jalan menanjak menuju Pincuran 3. Di sebelah kanan jalan terlihat tempat mainan anak yang terbengkalai... spooky.. hiii

Jalan menanjak menuju Pincuran 3. Di sebelah kanan jalan terlihat tempat mainan anak yang terbengkalai… spooky.. hiii

 

Sumber air panas Pancuran 3, Baturraden

Sumber air panas Pancuran 3, Baturraden

 

Pancuran-3-baturraden1

Gambar di sebelah kanan atas adalah Petilasan Mbah Tapa Angin. Tadinya aku pikir petilasan itu semacam tempat pemandian, wah keren juga ternyata nenek moyang kita udah kenal sauna pikirku (karena dekat sumber air panas)… hihi… Ternyata petilasan itu merupakan suatu tempat dimana seseorang pernah tinggal atau bertapa di situ, dalam hal ini petilasan ini dinamakan Petilasan Mbah Tapa Angin karena konon kawasan ini ditemukan oleh Mbah Tapa Angin. Yak maaf, bahasa Jawanya pas-pasan.. hehe.. Pantesan aja, pas anak-anak disuruh masuk ke dalam pada ga berani semua… sereemm kata mereka.

Di Pancuran Telu ini ada beberapa kolam. Ada kolam yang suhunya sangat panas, sedang dan ada yang hangat karena airnya sudah bercampur air yang berasal dari air terjun kecil. Panas tidaknya kolam bisa dilihat dari pekat tidaknya warna kolamnya. Semakin berwarna ke oranye-an semakin panas airnya.

Dari Pancuran 3, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju Pancuran 7 (Pancuran Pitu) yang jaraknya 2.5 km dari Pancuran 3, melewati hutan pinus dan jalan menanjak… hihihi… Aku mah terimakasih aja kalau disuruh lanjut, mana bawa anak-anak. Titip salam aja deh. Tapi bagi yang berminat, jangan takut nanti pulangnya bisa naik ojek :)