Archives

MG Suites, Semarang

Awalnya liburan lebaran tahun ini, seperti tahun-tahun yang lalu, ga ada rencana kemana-mana karena parno sama yang namanya macet. Tapi gara-gara ada jalan tol baru dan berita-berita di TV yang bilang mudik tahun ini lancar, jadi kepo deh kita. Ditambah lagi adik ipar yang ngojok-ngojoki, “Ayo dong mbak, jalan-jalan.. masa liburan di rumah aja. Kita satu mobil aja, biar nyetirnya bisa gantian.” Cus dah, akhirnya si papa mau. Eh, tapi ternyata yang pingin ikut malah nambah dan akhirnya berangkat pakai dua mobil juga..haha.

Berhubung dadakan rencana perginya, nyari hotelnya juga agak susah plus mahal karena kami berangkat pas lebaran H-1. Tapi beruntung kami dapat kamar di MG Suites, Semarang.

Kami berangkat dari rumah pukul 6 pagi, ditambah berhenti beberapa kali di rest area untuk makan atau ke toilet. Di jalan lancar jaya, hanya kena macet di tol Pejagan karena ada kecelakaan. Dari Pemalang, tol-nya juga masih tol fungsional, jalannya sudah beton tapi masih 1 arah. Sampai di Semarang sekitar jam 3 sore dan langsung check-in ke hotel.

MG Suites merupakan hotel apartemen yang dikelola oleh manajemen yang sama dengan MG Setos (Semarang Town Square). Keduanya terletak bersebelahan tapi mempunyai pintu masuk yang berbeda. Pintu masuk MG Setos berada di Jl. Inspeksi sedangkan pintu masuk MG Suites berada di Jl. Petempen. Jalannya kecil, tapi cukup untuk 2 mobil, sehingga kata orang MG Suites itu kepanjangan dari Mlebu Gang Suites.. haha. Tapi sebenarnya kepanjangan MG itu adalah Mutiara Garden. Loby hotel MG Suites berada di lantai 6. Kalau dari gedung parkir, naik terus sampai lantai 6 dan mentok. Nah ini agak menyusahkan, karena lobynya seakan-akan menutupi jalanan, sehingga mobil yang sudah mencapai loby di lantai 6 harus berputar maju mundur untuk kembali turun. Jalan di tempat parkirnya juga 2 arah, sehingga harus hati-hati bila bersisipan dengan mobil lain. Tempat parkir yang agak luas berada di lantai 3, itupun kalau aku bilang masih kurang, apalagi kalau musim liburan.

Kami booking 2 kamar Maven Suites yang luasnya 67m2, memiliki 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, living room, dry pantry dan lemari es. Pertama kali masuk ke kamarnya, lantainya terlihat agak berdebu. Tapi meja-mejanya oke, ga ada debunya. Karena hotel ini merupakan hotel apartemen, maka setiap kamarnya terbilang luas dan memiliki dry pantry.

Ada yang ga mau minggir ^_^

Maven suite

Room 1 (Abaikan cermin :D)

Room 2

Kamar mandi

Dry pantry dan lemari es

 

MG Suites mempunyai 1 kolam renang yang berada di lantai 7 yang kedalamannya sekitar 1.2m. Untuk kolam anak terdapat di lantai 2 yang mana sebenarnya kolam ini merupakan fasilitas dari MG Setos. Tapi kita boleh kok berenang juga di sana.

Kolam renang di  lantai 7

Kolam renang di lantai 7 yang bersebelahan dengan Bottega Restaurant

Kolam renang di lantai 2

 

Breakfast disajikan di Bottega Restaurant, yang letaknya bersebelahan dengan kolam renang di lantai 7. Sayang tempatnya kurang luas sehingga tamu yang tidak kebagian tempat dialihkan makan di lantai 6. Mungkin karena tamunya banyak, pelayannya juga kocar-kacir meladeni permintaan tamu yang ingin menu yang hanya ada di lantai 7, seperti telor misalnya, sehingga makanan di lantai 6 ini sering telat diisi kembali bila sudah habis.

Kesimpulannya, menginap di MG Suites ini cukup menyenangkan dan terjangkau, apalagi bila mengajak anggota keluarga yang banyak. Tinggal gelar tikar sama kasur angin di living roomnya.. haha. Oya, bagi yang ingin fitness atau spa, juga tersedia di hotel ini.

Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

Selain Lawang Sewu, Klenteng Sam Poo Kong juga merupakan salah satu destinasi wisata Semarang yang banyak dikunjungi. Meskipun merupakan sebuah klenteng, namun bangunan ini didirikan untuk menghormati Laksamana Zheng He yang menganut agama Islam. Laksamana Zheng He (Cheng Ho) alias Haji Mahmud Shams adalah seorang penjelajah dari Cina yang menjalankan misi dari kaisar ketiga dinasti Ming untuk berdagang sekaligus membawa misi perdamaian.

Sewaktu Laksamana Zheng He sedang berlayar, seorang juru mudinya yang bernama Wang Jing Hong sakit keras. Maka merapatlah armada Zheng He di pantai Simongan, Semarang. Zheng He menemukan sebuah goa batu yang kemudian digunakannya untuk sholat. Zheng He juga mendirikan sebuah kuil kecil sebelum kembali berlayar. Sementara itu Wang Ji Hong dan beberapa awak kapalnya tetap tinggal di Simongan dimana mereka bergaul dengan penduduk setempat, membangun rumah dan menggarap lahan. Untuk menghormati pimpinannya, Wang Ji Hong mendirikan patung Zheng He di goa tersebut.

Setelah Wang Ji Hong meninggal, ia dimakamkan di sekitar goa itu. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Makam Juru Mudi. Ketika terjadi tanah longsor pada tahun 1704, goa tersebut hancur. Baru pada tahun 1724 masyarakat Tionghoa memugar goa tersebut dan mendirikan sebuah klenteng untuk menghormati Laksamana Zheng He dan memberi gelar Sam Po Tay. Sebuah patung Sam Po Tay berbalut emas juga dibuat dan diletakkan di goa di bawah klenteng.

Bagi yang bingung dengan letak klentengnya yang sekarang ada di tengah kota bukannya di pinggir pantai, itu karena adanya proses sedimentasi yang mengakibatkan daratan semakin bertambah luas ke arah pantai utara Jawa.

Dalam perjalanannya, klenteng ini mengalami beberapa kali perpindahan kepemilikan sampai akhirnya kepemilikan kuil dipindahkan ke yayasan Sam Poo Kong pada tahun 1924. Selain itu klenteng ini juga terus menerus mengalami pemugaran dengan penambahan beberapa bangunan lainnya.

HTM Klenteng Sam Poo Kong beragam, terbagi menjadi tiket umum dan tiket terusan serta hari biasa dan hari libur. Untuk lebih lengkapnya bisa lihat gambar di bawah ini. Bedanya tiket umum dan terusan adalah bila mengambil tiket umum maka pengunjung hanya bisa masuk ke area panggung dan area patung Laksamana Zheng He. Sedangkan bila mengambil tiket terusan, pengunjung bisa masuk ke area semua klenteng, melihat relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksamana Zheng He dan dapat menonton film pendek tentang kisah perjalanan Laksamana Zheng He.

Tarif masukKlenteng Sam Poo Kong

Apa saja sih yang bisa di lihat di area ini?

1. Pintu Gerbang Utara

Pintu Gerbang Utara terletak dekat tempat parkir. Terdapat tulisan “Sam Poo Kong” diatas gerbangnya.

2. Pintu Gerbang Selatan

Pintu Gerbang Selatan ini berbentuk setengah lingkatan dengan atap bernuansa arsitektur Cina.

Pintu Gerbang Selatan

3. Panggung

Panggung ini digunakan untuk tempat pertunjukkan pada hari raya atau acara tertentu.

Panggung

4. Patung Laksamana Zheng He

Patung raksasa ini didirikan sebagai peringatan akan Laksamana Zheng He. Di bagian bawah patung terdapat biografi singkat Laksamana Zheng He yang ditulis di atas batu granit. Terdapat juga tanggal peresmian patung ini oleh Gubernur Jawa Tengah.

Patung Laksamana Zheng He dan Kuil Sam Poo Kong

5. Kuil Sam Poo Kong

Di dalam kuil Sam Poo Kong ini terdapat tempat sembahyang bagi umat yang ingin sembahyang. Pada bagian dinding luar bagian belakang terdapat relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksamana Zheng He. Bebatuan yang digunakan didatangkan dari Tiongkok, sedangkan ukirannya dikerjakan oleh seniman dari Bali.
Selain itu di dalam kuil ini terdapat goa batu, walaupun bentuknya sudah tidak lagi seperti goa. Di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan dan patung kecil Laksamana Zheng He, serta sumur yang berisi mata air. Tempat ini dianggap sakral, sehingga tidak sembarang orang dapat masuk ke sini.

Tempat sembahyang. Terlihat di bagian belakang terdapat relief batu.

Goa Batu di bawah Klenteng

6. Kuil Kyai Juru Mudi

Kuil ini terletak di sebelah utara Kuil Sam Poo Kong dan merupakan tempat pemakamam Wang Ji Hong yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berziarah dan meminta kesuksesan dalam bisnis.

7. Kuil Dewa Bumi

Terletak di sebelah Kuil Kyai Juru Mudi. Dewa Bumi dianggap membawa rezeki dan berkah sehingga banyak orang yang juga berdoa di kuil ini.

Kuil Kyai Juru Mudi dan Kuil Dewa Bumi

8. Kuil Kyai Jangkar

Terletak di sebelah selatan Kuil Sam Poo Kong. Di dalamnya terdapat makam Kyai Jangkar, tempat pemujaan untuk pendiri agama Kong Hu Cu, dan Rumah Arwah Hoo Ping dimana arwah orang meninggal yang tidak dirawat keluarganya didoakan di sini.

Kuil Kyai Jangkar

9. Kuil Kyai Cundrik Bumi

Kuil ini terletak di sebelah Kuil Kyai Jangkar dan digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata.

10. Kuil Kyai Tumpeng

Tempat ini lebih mirip sebuah pendopo daripada kuil. Terdapat makam Kyai Nyai Tumpeng yang merupakan juru masak Zheng He.

11. Pohon Rantai

Pohon ini diyakini sebagai jelmaan dari tali jangkar dari kapal Sang Laksamana. Bentuk dahannya menyerupai rantai kapal.

12. Patung Dewa Penjuru Angin

Terdapat delapan patung Dewa Penjuru Angin di depan Kuil Dewa Bumi.

8 Dewa Penjuru  Angin

 

Di Klenteng Sam Poo Kong ini juga tersedia penyewaan kostum tradisional kerajaan China. Ada fotografernya juga yang siap mengabadikan moment tersebut.

Lawang Sewu, Semarang

Ke Semarang kayaknya belum afdol kalau belum mengunjungi Lawang Sewu. Kalau liat FB atai IG temen-temen yang ke Semarang, pasti ada foto Lawang Sewunya. Terutama foto yang orang yang nongol di pintu-pintu itu. Iih, jadi bikin penasaran pingin ke sana.

Lawang Sewu

Lawang Sewu sendiri merupakan salah satu gedung bersejarah yang berlokasi di Semarang. Dulunya bangunan ini adalah kantor dari NIS dan setelah Indonesia merdeka beralih menjadi kantor kereta api. Maka tidak heran di Lawang Sewu juga terdapat ruangan yang berisi berbagai macam foto kereta api jaman dulu, bahkan ada lokomotif benerannya yang ada di halaman dan bisa dinaiki pengunjung.

.

.

Harga tiket masuk Lawang Sewu ini cukup murah, yaitu Rp. 10.000,-/orang untuk dewasa dan Rp. 5.000,-/orang untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

HTM Lawang Sewu

Ada beberapa bangunan di area ini. Tapi semuanya rata-rata kosong melompong. Malah beberapa ruangan digunakan untuk berjualan suvenir serta makanan dan minuman. Tapi hati-hati kalau beli minuman di sana. Lebih baik tanya harganya terlebih dulu. Berhubung anak-anak kehausan mereka langsung minta minum begitu melihat minuman yang diletakkan di lemari pendingin. Penjualnya bapak-bapak. Mereka ambil Nu 1, Aqua 1. Begitu aku tanya berapa total semua. “35 ribu,” jawab si Bapak. Waakss… mihil bingits. Kadung dah..

Nah, benarkah jumlah pintu di Lawang Sewu ini ada 1000? Ternyata tidak. Berhubung jaman dulu belum ada AC, maka didisainlah bangunan ini sedemikian rupa agar tidak panas dan pengap di dalamnya. Caranya adalah dengan membuat jendela dan pintu yang banyak untuk tempat pertukaran udara. Sangking banyaknya, kalau ditanya jumlahnya berapa, dijawab aja “sewu” (seribu). Malas ngitung soalnya..haha.

Kesampaian juga foto di sini ^o^

 

Sebenarnya bangunan di Lawang Sewunya ini ga ada apa-apanya, begitu-begitu aja, apalagi di mata anak-anak. “Bosen ma, di sini. Apa yang diliat sih?.” Iya, buat anak-anak pasti bosen. Tapi buat yang suka foto-foto, tempat ini bisa dijadikan tempat yang instagrammable.

Dimana-mana pintu.. kalau kuncinya hilang bisa masuk dari pintu lainnya.. haha.

.

Tapi sebenarnya selain buat foto, bagi yang suka sama yang horor-horor, Lawang Sewu ini layak dikunjungi karena termasuk dalam salah satu tempat teranker di dunia. Berhubung aku ga suka sama yang serem-serem, jadinya ogah banget masuk ke ruang bawah tanahnya. Waktu jaman penjajahan Belanda, ruangan tersebut digunakan untuk tempat resapan air. Tetapi sewaktu jaman penjajahan Jepang, ruangan tersebut dijadikan penjara bawah tanah dan tempat pembantaian. Denger-denger ada banyak roh-roh penasaran yang  ada di sana..hiii.

Oya, bagi yang ingin mengetahui sejarah lebih lengkap mengenai Lawang Sewu, bisa menyewa guide untuk mengelilingi tempat ini. Bahkan untuk menemani turun ke penjara bawah tanahnya.