Masak Suka-Suka

Semenjak punya rumah sendiri *Puji Tuhan* dan pisah rumah sama nyokap, mau ga mau harus masak sendiri. Huaaa… Dulu di rumah nyokap juga pernah masak sih, tapi kadang-kadang aja terutama kalau si papa minta dimasakin masakan tertentu. Tapi sekarang tiap hari musti mikir masak apa. Pusing pala berbie jadinya.

Iseng-iseng pingin juga nulis pengalaman aku masak, ga cuma jalan-jalannya mulu. Nanti dipikir istrinya kok kerjanya jalan-jalan mulu. Padahal jalan-jalannya juga ga sering-sering amat *semoga si papa baca ini*.

Aku buat direktori baru, namanya Masak Suka-Suka, karena jadinya suka enak, suka engga. Wkwk. Eh tapi mostly enak kok. Cuma kalau hari ini tampilannya begini, belum tentu besok-besok kalau masak lagi tampilannya bisa sama.
Masak itu sesungguhnya bukan panggilan jiwaku. Paling stress rasanya mikirin menu makanan buat keluarga. Belum lagi kalau disuruh ke pasar yang jual sayuran dan daging. Haiyaaa… ku tak suka. Kalau ke Pasar Baru mah hayok, apalagi Pasaraya. Padahal suami dan anak-anak selalu muji masakanku, tapi teteup aja aku ga termotivasi untuk masak. Tapi apa boleh buat, dapur musti ngebul :)

Nah, di resep-resep yang aku posting ini, bumbunya kebanyakan dikira-kira aja. Tinggal rasanya nanti diicip-icip lagi, kurang garam atau gula. Kalau masih belum enak, baru dikeluarin senjata pamungkas terakhir yaitu ditambahin masako. Hihi.

Petik Strawberry di Sari Ater

Si kakak pingin banget metik strawberry, dari tadi ngerayu si papa buat bayarin. Rupanya sebelum masuk ke gerbang masuk Sari Ater dia liat tuh ada spanduk petik Strawberry.  Area petik Strawberry ini letaknya di depan halaman Sari Ater Hotel & Resort.

Petik Strawberry di Sari Ater

Petik Strawberry di Sari Ater

 

Areanya ga begitu luas. Strawberrynya juga ga terlalu banyak yang sudah matang. Untuk perlengkapan memetiknya, anak-anak dikasih keranjang sama gunting untuk memotong tangkai strawberrynya. Lalu kenapa namanya petik strawberry bukan gunting strawberry? Ga tau ah!

Anak-anak asyik petik, eh gunting strawberry

Anak-anak asyik petik, eh gunting strawberry

 

Hasil menggunting strawberry

Hasil menggunting strawberry

 

Foto di atas adalah hasil anak-anak menggunting strawberry. Setelah ditimbang beratnya 2 kilo kurang dan kami harus membayar Rp. 80.000,-.  Whaatt? mahal bet. Tadi masuknya sama si papa, jadi aku ga nanya-nanya lagi harganya.  Perasaan kalau beli sama abang-abang cuma Rp. 20.000,- per 1 kotak plastik besar.

Dan…. yang lebih bikin kesel adalah strawberrynya ketinggalan di lemari es kamar hotel.  Bhhuaaa… *garuk-garuk tembok*

Tangkuban Perahu

Liburan akhir tahun kali ini adalah ke Bandung lagiii. Sebenarnya bingung juga kalau ke Bandung mau ngapain. Mau kuliner, anak-anak makannya pada picky. Mau jalan-jalan juga ga tau kemana. Akhirnya mentok-mentok Lembang lagi, Lembang lagi.. hihi..

Rencananya mau lihat ke tempat-tempat yang lagi happening di Lembang, seperti Farmhouse Susu, Dusun Bambu, Lawang Wangi, dsb. Tapi ternyata, waakkss… Lembang penuh padat. Mulai dari jalan Sukajadi sudah mulai merayap. Sampai di Farmhouse Susu jam 10 kurang tapi parkiran di dalam sudah penuh, banyak mobil yang kemudian parkir di luar sepanjang jalan dan bikin macet tambah parah. Akhirnya batal deh ke sana. Duuh, males banget kalau banyak orang gitu di dalam, ga bisa eksis foto-foto juga :D

Ke arah Dusun Bambu juga macet. Liat dari GPS jalanan udah pada merah semua.. huhu.. Akhirnya si papa ngajak ke Tangkuban Perahu. Yo wes, hayuk aja. anak-anak juga belum pernah liat kawah, sekalian biar mereka pada tahu. Eh tapi si Edward malah jadi lebay banget. “Ngapain sih ma ke kawah gunung? Ntar kalau gunungnya meletus gimana?” Haiyah, ni anak penakut amat :D

Selepas pasar Lembang, perjalanan menuju Tangkuban Perahu boleh dibilang sepi. Sepertinya orang-orang lebih memilih wisata kekinian daripada mengunjungi kenampakan alam. Jadi ingat enam tahun yang lalu, waktu anak-anak masih piyik, kami pergi ke Ciater. Berhubung di tengah jalan si kakak kebelet pipis, akhirnya kami berhenti di pinggir jalan, menghadap sawah yang luas dan Marshapun pipis di sana… hahaha…

Sampai di gerbang Tangkuban Perahu masuk, bayar tiket dulu. Rp. 20.000,-/orang dan Rp. 25.000,-/mobil. Dari gerbang, tempat yang kami tuju adalah Kawah Ratu. Jalan menuju ke Kawah Ratu menanjak dan berliku-liku, dengan pepohonan di kanan kirinya. Tambah takutlah Edward. “Oh, my God.. Mom, it’s so scary!” *duh, ni anak*.

Kawah Ratu adalah kawah yang terbesar dan mudah diakses oleh kendaraan. Tersedia banyak parkiran untuk kendaraan pribadi di area Kawah Ratu, sedangkan untuk bis ada parkiran khusus sebelum sampai ke Kawah Ratu. Dari parkiran bis, bisa naik mobil ELF untuk mencapai Kawah Ratu, tapi aku ga tau harus bayar lagi apa engga. Selain Kawah Ratu, masih ada 9 kawah lainnya yang terdapat pada Gunung Tangkuban Perahu ini, yaitu Kawah Domas, Kawah Upas, Kawah Baru, Kawah Lanang, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, Kawah Pangguyangan Badak dan Kawah Jarian. Di Kawah Domas, kita bisa merendam kaki dalam sumber air panas dan bahkan merebus telur di dalam kawahnya. Untuk mencapai Kawah Domas pengunjung harus berjalan kaki. Selain Kawah Domas, kawah lain yang sering dikunjungi pengunjung adalah Kawah Upas. Kawah Upas terletak di sebelah Kawah Ratu. Jalan menuju ke Kawah Upas terjal dan banyak bebatuan serta pasir. Pemandangan di Kawah Upas sangat bagus, katanya. Kami hanya melihat Kawah Ratu saja, karena perjalanan menuju kawah lainnya cukup sulit apabila dilakukan bersama anak-anak. Boro-boro bawa anak-anak, bawa kaki sendiri aja udah susah.. haha.. maklum kaki nenek-nenek.

Di Kawah Ratu, yang paling ingin aku cium adalah bau belerang. Tapi ternyata, belerangnya sudah tidak bau seperti dulu waktu aku kecil. Terakhir ke sini barangkali sudah hampir 30 tahun yang lalu.. wkwkwk.. Dulu itu, inget banget tanteku hampir pingsan karena ga kuat cium bau belerangnya. Sekarang mah ga ada apa-apanya. Anak-anak cuma nanya, “Mah, ini bau apaan ya?” Tapi udah gitu mereka santai aja, gak terganggu sama bau belerangnya, karena memang baunya tidak menyengat lagi.

 

parkiran-kawah-ratu

Area parkir Kawah Ratu

 

Pemandangan Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Perahu

Pemandangan Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Perahu

 

kawah-ratu-tangkuban-perahu1

Mau bawa suvenir dari Tangkuban Perahu? Tenang, di sini banyak banget toko suvenir maupun orang-orang yang berkeliling menawarkan suvenir, mulai dari kaos, tas, topi sampai angklung juga ada. Tapi yang paling menarik adalah topi dengan penutup telinga berupa kepala binatang yang lucu-lucu. Si papa disuruh beli satu buat bawa ke Jerman gak mau… haha..

Aneka suvenir

Aneka suvenir

 

Topi kepala binatang

Topi kepala binatang

 

Setelah puas melihat-lihat, foto sana-sini, kamipun melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah wisata air panas alam Sari Ater.