Swiss-Belhotel, Cirebon

Pagi-pagi kami sudah check-out dari Neo+ Awana. Anak-anak ditawarin sarapan di hotel lagi pada ga mau. Akhirnya kami sarapan di soto kadipiro yang terkenal itu. Dari Yogya, kami balik pulang ke arah Jakarta. Tapi mampir dulu di Cirebon semalam. Hotel yang kami pilih adalah Swiss-Belhotel. Hotel ini terletak di Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo, jadi satu dengan Cirebon Super Block Mall. Dari pengalaman kami menginap di beberapa hotel, memang paling enak kalau hotelnya jadi satu sama mall. Mau cari apa-apa gampang. Kadang kehabisan minum atau anak-anak pingin snack tinggal cari ke mall.

Sampai di hotel sudah agak malam. Karena parkiran di dekat lobby hotel penuh, kami diarahkan untuk parkir di dalam gedung parkir. Ternyata parkir untuk hotel ada di P6A. Weleh, jauh bet.. muter-muter naik ke atas di gedung parkir. Nah dari lantai P6A, aku harus turun dengan lift dan check-in dulu ke lobby bawah. Check-in dilayani oleh staff pria yang gimana ya.. ketus sih engga, tapi yang jelas ga ramah. Trus dimintain pula deposit kunci sebesar Rp. 100.000,-. Setelah check-in, naik lift lagi ke mobil ambil barang yang mana jarak dari lift menuju parkir mobil lumayan jauh.

Kamar hotelnya sendiri bagus. Biasanya kalau kamar hotel berbintang 4 ke atas udah pasti bagus. Paling yang kami perhatikan adalah masalah kebersihannya aja. Nah, di sini kamarnya bersih begitu juga dengan kamar mandinya. No complaint.

Deluxe Room

Kamar mandi

 

Pagi-pagi aku sama si papa naik becak buat beli nasi jamblang Mang Dul yang letaknya kurang lebih 600m dari CSB Mall. Pulangnya diajak jalan kaki…hahah nasib. Setelah kami sarapan, giliran anak-anak yang sarapan di hotel. Ruang makannya luas banget. Di depannya ada coffe shop. Berhubung sekarang akhir tahun, ada Christmas cookies yang dibuat menyerupai rumah dan dipajang di depan area masuk ruang makan. Setelah terkagum-kagum dengan Christmas cookiesnya, anak-anak beralih terkagum-kagum dengan chocolate fountainnya.. hihi anak siapa sih nih, kok norak banget.

Dining Room

Christmas Cookies

Chocolate Fountain

 

Anak-anak kalau sarapan paling cuma sosis, telor sama roti. Jadi makanan yang dicari mereka ya cuma itu. Apalagi abis liat chocolate fountain, pikirannya udah ngambil roti aja. Aku sendiri ga gitu tertarik sama makanan hotel, lebih senang jalan pagi-pagi cari makanan di sekitaran yang menarik. Eh, tapi ternyata di Swiss-Belhotel ini ada juga menu makanan tradisional yang mana kebetulan nasi jamblang. Enakan mana ya sama punya Mang Dul..hihi. Trus ada juga jamu tradisionalnya.

Di sebelah coffe shop ada kolam renang. Kolam renangnya cukup luas, tapi sayang gersang banget. Mana cuaca di Cirebon kan panas banget. Sebaiknya tanamannya diperbanyak dan ditambahkan payung kanopi pada bangku untuk berjemurnya.

Museum Anak Kolong Tangga, Yogyakarta

Dari De Mata Trick Art Museum, kami menuju ke Taman Pintar, tepatnya ke pasar buku bekasnya. Tujuannya yaitu mau beli buku Why Series buat anak-anak. Lumayan murah cuma 50 ribu-an dan masih baru lho. Anak-anak ini bacaannya terbatas, maunya cuma komik dan itu hanya komik tertentu aja. Dikasih komik seperti Dragon Ball, Kungfu Boy atau komik-komik manga lainnya engga mau. Ngeliat warnanya aja yang cuma hitam putih udah males. Cuma satu komik manga yang dibaca, yaitu Pank Ponk. Padahal koleksi buku-buku jaman aku kecil masih ada, seperti Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, Hardy Boys, Sherlock Holmes, Lupus, Donal Bebek, Lucky Luke, Asterix, dll. Boro-boro dibaca, dilirik aja engga -.-‘

Setelah dapat beberapa buku, kami nongkrong makan bakso di pinggir jalan. Tiba-tiba aku ingat, semalem waktu browsing internet kayaknya di sekitar situ ada yang namanya Museum Anak Kolong Tangga. Penasaran juga isinya apa. Sehabis makan kamipun mencari museum tersebut. Udah jalan mondar-mandir tapi kok ga ketemu juga. Akhirnya nanya sama tukang becak. Eh, ternyata ada di depan mata. Museum Anak Kolong Tangga ini berada di gedung Taman Budaya, Yogyakarta. Ga ada papan nama atau petunjuk yang menunjukkan bahwa museum itu terletak di situ.

Museum Anak Kolong Tangga ada di dalam Gedung Taman Budaya ini.

 

Masuk ke dalam, baru sadar kenapa dinamakan Museum Anak Kolong Tangga. Di depan ruangan museum terdapat anak tangga yang menuju ke lantai 2 concert hall Taman Budaya Yogyakarta. Jadi seakan-akan ada di bawah kolong tangga. Kalau tangganya ga disitu mungkin bukan itu namanya. Haha.

HTMnya murah meriah. Cuma Rp. 5.000,-/orang dewasa. Anak-anak di bawah 15 tahun gratis.

Museum ini berbentuk persegi empat memanjang. Di dalamnya terdapat etalase-etalase tempat menyimpan mainan-mainan anak jaman dulu. Konon koleksi museum ini ada sekitar 18.000 koleksi yang terdiri dari mainan, buku cerita, poster, gambar, dan lain-lain dari Indonesia dan berbagai negara di dunia. Tapi yang ditampilkan di ruangan ini hanya sekitar 400-an saja. Uniknya penggagas berdirinya museum ini adalah seorang seniman asal Belgia yang mana dia juga turut menyumbangkan sebagian koleksi mainannya. Kebayang ga tuh gimana ortunya liat anaknya beli mainan mulu…haha. *curcol*

Di sini yang antusias cuma aku dan si papa. Inget mainan-mainan kita jaman dulu. Anak-anak mah cuek aja, ga tertarik walau dijelasin mainan ini maininnya gimana.

Congklak ini terbuat dari kayu dengan gaya dekorasi Cina. Dibuat sebelum tahun 1960. Dibawahnya adalah mainan kuda-kudaan.

 

Beraneka macam seruling; kelereng dan bola+biji bekel;bunga kertas yang dapat dilipat; gambaran.

 

Mainan masak-masakan dan beraneka celengan dari tanah liat; beraneka mainan pistol-pistolan.

 

Mainan mobil-mobilan

 

Beraneka board games dan mainan musik.

 

Dunia pendidikan jaman Cina kuno.

 

Sepatu roda jaman dulu :D

 

Museum ini sebenarnya ga cocok dinamakan museum anak. Karena kalau anak-anak jaman sekarang yang ke sini, asli mereka bakalan bosen dan ga tertarik. Cocoknya dinamakan museum nostalgia, karena yang hahah hihih di sini pasti emak bapaknya.

Terus terang melihat museum ini sangatlah miris. Seperti mati segan hidup tak mau. Sepi banget pengunjungnya, bahkan boleh dibilang tidak ada pengunjungnya. Ide dari museum ini sebenarnya bagus yaitu untuk melestarikan dan menunjukkan budaya dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam permainan tempo dulu. Anak-anak diharapkan bisa datang dan mengamati, menanyakan sesuatu, mendapatkan inspirasi, dan termotivasi untuk membuat sesuatu sendiri dengan mengeksplorasi ide-ide mereka. Tapi dengan penyajian museum seperti itu akan sangat susah untuk membuat anak-anak tertarik, jangankan mengeksplorasi, liat aja udah ga tertarik. Mudah-mudahan untuk ke depannya pihak pengelola bisa lebih kreatif untuk menarik minat anak-anak datang ke museum ini.

 

Update Juli 2017 :
Museum Anak Kolong Tangga ditutup dikarenakan adanya renovasi Gedung Taman Budaya Yogyakarta. Belum diketahui akan pindah kemana karena ketiadaan dana.

De Mata Trick Eye Museum, Yogyakarta

De Mata Trick Eye Museum terletak di XT Square. Kalau dari Neo+ Awana tinggal lurus aja jalannya kira-kira 2,5km. Tadinya mau naik becak ke sana, eh tapi si abang mintanya 50rb, ga jadi deh akhirnya naik mobil sendiri.

De Mata ini merupakan tempat dimana pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang lukisan yang menampilkan ilusi optik 3 Dimensi. Selain berfoto dengan latar belakang lukisan, pengunjung bisa berfoto juga dengan patung-patung orang terkenal yang terdapat di gedung De Arca. Jadi, di area De Mata Trick Art Museum ini, ada 3 wahana yaitu De Mata 1, De Mata 2 dan De Arca. Rencananya akan ditambah juga wahana yang serupa dengan Upside Down World, tapi ga tau kapan.

Untuk HTMnya, kami ambil yang tiket terusan, yaitu De Mata 1, De Mata 2 dan De Arca sebesar Rp. 90.000,-/orang. (Untuk harga updatenya bisa liat sendiri di www.dematamuseum.com). Dapet suvenir juga berupa 2 buah gantungan kunci dan kalender. Yang kalendernya ilang, dibawa-bawa sama si papa trus ga tau ketinggalan dimana -.-‘

Dapet gantungan kunci gratis :)

 

Berikut sebagian kecil foto-foto yang kami ambil :

De Mata

De Arca

Sedikit tips, kalau mau ke De Mata Trick Eye Museum jangan pas musim liburan. Biar maksimal dapat foto-fotonya ^.^b