Jalan-jalan

Cerita tentang jalan-jalan

Gumilang Regency Hotel, Bandung

Di Lembang, kami sengaja cari penginapan yang dekat dengan Farmhouse supaya pagi-pagi bisa ke sana sebelum penuh dan parkir susah. Akhirnya dapatlah kami kamar di Gumilang Regency Hotel di Jl. Dr. Setiabudhi. Begitu sampai di hotel, anak-anak langsung kegirangan karena kolam renangnya terletak di depan kamar. Mereka langsung minta berenang padahal sudah sore dan air kolamnya dingin banget.

.

Gumilang Regency Hotel merupakan hotel bintang 3. Kalau lihat price list hotel yang ada di front officenya, harganya mahal bingits. Padahal aku booking melalui salah satu situs travel dapat harga 500rb-an untuk executive roomnya. Jadi kalau mau booking kamar di sini mending lewat situs travel aja karena kalau dengan harga normal dari pihak hotelnya tidak sebanding dengan fasilitas yang didapatkan.

.

.

Hotel ini sebenarnya terlihat seperti guest house dengan bangunan yang terdiri dari 2 tingkat dan 3 tingkat. Kolam renang dan playground terletak di tengah bangunan kamar. Kalau banyak yang berenang atau bermain di playground, cukup terdengar sangat berisik dari dalam kamar.

Ada kolam renang dewasa dan kolam renang anak-anak

Playground

Kamar yang kami pilih adalah Executive Twin Room. Kamarnya persis di tengah-tengah antara kolam renang dan playground, luas dan ada meja makan di dalamnya.

Executive Twin Room

.

.

Kamar mandinya menurut aku perlu direnovasi kalau mau dibilang hotel. Model showernya yang jadul banget. Air panas kadang keluar, kadang engga. Tersedia amenities yang dimasukkan ke dalam box dan hair dryer.

Untuk ruang makannya terletak di depan dekat lobi. Kalau musim liburan sepertinya tempatnya akan kurang memadai. Kami tidak sarapan di sini karena anak-anak kepingin makan sosis di Farmhouse.

ruang makan

Selain kolam renang, Gumilang Regency Hotel juga menyediakan tempat fitness, tempat spa dan ruang karaoke.

Kesimpulannya menginap di sini cocok kalau membawa keluarga besar dengan anak-anak kecil. Harganya kalau pesan di situs travel jauh lebih murah dan lokasinya dekat ke arah Lembang, paling tidak ikut macet-macetnya gak dari arah Bandung. Bahkan lebih enak naik angkot kalau mau ke tempat wisata yang letaknya tidak jauh dari pinggir jalan, seperti Farmhouse, Rumah Sosis (Update Nov’17 : Baru tau kalau Rumah Sosis sudah tutup dari tahun lalu.. wkwk, kemana aja sayah), dsb. Tapi kalau mau cari kenyamanan, privacy, menurutku kurang cocok menginap di sini.

Goa Maria Karmel, Lembang

Dari Klenteng Sam Poo Kong, kami melanjutkan perjalanan kembali ke arah Bandung. Berhubung sudah kemalaman, kami berhenti menginap di Swissbel Hotel, Cirebon. Untuk reviewnya bisa dilihat di sini. Sebelumnya kami sudah pernah menginap di hotel ini, hanya bedanya kali ini kami tidak dimintai deposit untuk kunci kamar dan staff front office  yang melayani lebih ramah.

Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Bandung dan mampir ke Goa Maria Karmel di Lembang. Kalau ke Lembang, kami pasti menyempatkan diri ke sini. Lokasinya tepat di sebelah Hotel Pesona Bamboe. Masuk di gang sebelah hotel tersebut dan ada area parkir di dalamnya walaupun tidak terlalu luas. Di dalam kompleks ini, selain Goa Maria, terdapat juga Kapel Santa Maria Fatima dan Biara Karmel yang dihuni oleh Suster-suster O.C.D (Ordimis Carmelisarum Discalceatorum atau Ordo Karmel Tak Bersepatu).

Suasana hening langsung terasa saat kita memasuki pintu gerbang Goa Maria Karmel ini. Tempat ini memang dimaksudkan sebagai tempat ziarah pribadi atau keluarga, bukan untuk rombongan. Kalaupun datang beramai-ramai dan ingin mengikuti jalan salib, tidak diperkenankan menggunakan pengeras suara.

.

Terdapat dua arah jalan. Yang satu adalah untuk jalan salib dan yang satunya langsung menuju Goa Maria. Kami memilih jalan yang ke arah Goa Maria. Di sekitar jalan setapak menuju Goa Maria banyak terdapat pepohonan dan tanaman. Tidak jauh dari situ tampak patung Yesus yang disalibkan di bukit Golgota dengan pelataran yang cukup luas sehingga para peziarah dapat duduk lesehan di sana untuk berdoa.

Yang sebelah kiri arah jalan salib, sebelah kanan arah ke Goa Maria

Patung Yesus disalib di Bukit Golgota

Di sebelah kirinya adalah Goa Maria. Di depan Goa Maria dibuat undakan-undakan yang dibuat sebagai tempat duduk untuk para pexiarah yang ingin berdoa. Goa Maria ini terbuka untuk umum mulai pukul 7 pagi sampai pukul 7 malam.

Goa Maria Karmel Lembang

Klenteng Sam Poo Kong, Semarang

Selain Lawang Sewu, Klenteng Sam Poo Kong juga merupakan salah satu destinasi wisata Semarang yang banyak dikunjungi. Meskipun merupakan sebuah klenteng, namun bangunan ini didirikan untuk menghormati Laksamana Zheng He yang menganut agama Islam. Laksamana Zheng He (Cheng Ho) alias Haji Mahmud Shams adalah seorang penjelajah dari Cina yang menjalankan misi dari kaisar ketiga dinasti Ming untuk berdagang sekaligus membawa misi perdamaian.

Sewaktu Laksamana Zheng He sedang berlayar, seorang juru mudinya yang bernama Wang Jing Hong sakit keras. Maka merapatlah armada Zheng He di pantai Simongan, Semarang. Zheng He menemukan sebuah goa batu yang kemudian digunakannya untuk sholat. Zheng He juga mendirikan sebuah kuil kecil sebelum kembali berlayar. Sementara itu Wang Ji Hong dan beberapa awak kapalnya tetap tinggal di Simongan dimana mereka bergaul dengan penduduk setempat, membangun rumah dan menggarap lahan. Untuk menghormati pimpinannya, Wang Ji Hong mendirikan patung Zheng He di goa tersebut.

Setelah Wang Ji Hong meninggal, ia dimakamkan di sekitar goa itu. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Makam Juru Mudi. Ketika terjadi tanah longsor pada tahun 1704, goa tersebut hancur. Baru pada tahun 1724 masyarakat Tionghoa memugar goa tersebut dan mendirikan sebuah klenteng untuk menghormati Laksamana Zheng He dan memberi gelar Sam Po Tay. Sebuah patung Sam Po Tay berbalut emas juga dibuat dan diletakkan di goa di bawah klenteng.

Bagi yang bingung dengan letak klentengnya yang sekarang ada di tengah kota bukannya di pinggir pantai, itu karena adanya proses sedimentasi yang mengakibatkan daratan semakin bertambah luas ke arah pantai utara Jawa.

Dalam perjalanannya, klenteng ini mengalami beberapa kali perpindahan kepemilikan sampai akhirnya kepemilikan kuil dipindahkan ke yayasan Sam Poo Kong pada tahun 1924. Selain itu klenteng ini juga terus menerus mengalami pemugaran dengan penambahan beberapa bangunan lainnya.

HTM Klenteng Sam Poo Kong beragam, terbagi menjadi tiket umum dan tiket terusan serta hari biasa dan hari libur. Untuk lebih lengkapnya bisa lihat gambar di bawah ini. Bedanya tiket umum dan terusan adalah bila mengambil tiket umum maka pengunjung hanya bisa masuk ke area panggung dan area patung Laksamana Zheng He. Sedangkan bila mengambil tiket terusan, pengunjung bisa masuk ke area semua klenteng, melihat relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksamana Zheng He dan dapat menonton film pendek tentang kisah perjalanan Laksamana Zheng He.

Tarif masukKlenteng Sam Poo Kong

Apa saja sih yang bisa di lihat di area ini?

1. Pintu Gerbang Utara

Pintu Gerbang Utara terletak dekat tempat parkir. Terdapat tulisan “Sam Poo Kong” diatas gerbangnya.

2. Pintu Gerbang Selatan

Pintu Gerbang Selatan ini berbentuk setengah lingkatan dengan atap bernuansa arsitektur Cina.

Pintu Gerbang Selatan

3. Panggung

Panggung ini digunakan untuk tempat pertunjukkan pada hari raya atau acara tertentu.

Panggung

4. Patung Laksamana Zheng He

Patung raksasa ini didirikan sebagai peringatan akan Laksamana Zheng He. Di bagian bawah patung terdapat biografi singkat Laksamana Zheng He yang ditulis di atas batu granit. Terdapat juga tanggal peresmian patung ini oleh Gubernur Jawa Tengah.

Patung Laksamana Zheng He dan Kuil Sam Poo Kong

5. Kuil Sam Poo Kong

Di dalam kuil Sam Poo Kong ini terdapat tempat sembahyang bagi umat yang ingin sembahyang. Pada bagian dinding luar bagian belakang terdapat relief batu yang menceritakan kisah perjalanan Laksamana Zheng He. Bebatuan yang digunakan didatangkan dari Tiongkok, sedangkan ukirannya dikerjakan oleh seniman dari Bali.
Selain itu di dalam kuil ini terdapat goa batu, walaupun bentuknya sudah tidak lagi seperti goa. Di dalamnya terdapat peninggalan-peninggalan dan patung kecil Laksamana Zheng He, serta sumur yang berisi mata air. Tempat ini dianggap sakral, sehingga tidak sembarang orang dapat masuk ke sini.

Tempat sembahyang. Terlihat di bagian belakang terdapat relief batu.

Goa Batu di bawah Klenteng

6. Kuil Kyai Juru Mudi

Kuil ini terletak di sebelah utara Kuil Sam Poo Kong dan merupakan tempat pemakamam Wang Ji Hong yang sering dikunjungi oleh orang-orang untuk berziarah dan meminta kesuksesan dalam bisnis.

7. Kuil Dewa Bumi

Terletak di sebelah Kuil Kyai Juru Mudi. Dewa Bumi dianggap membawa rezeki dan berkah sehingga banyak orang yang juga berdoa di kuil ini.

Kuil Kyai Juru Mudi dan Kuil Dewa Bumi

8. Kuil Kyai Jangkar

Terletak di sebelah selatan Kuil Sam Poo Kong. Di dalamnya terdapat makam Kyai Jangkar, tempat pemujaan untuk pendiri agama Kong Hu Cu, dan Rumah Arwah Hoo Ping dimana arwah orang meninggal yang tidak dirawat keluarganya didoakan di sini.

Kuil Kyai Jangkar

9. Kuil Kyai Cundrik Bumi

Kuil ini terletak di sebelah Kuil Kyai Jangkar dan digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata.

10. Kuil Kyai Tumpeng

Tempat ini lebih mirip sebuah pendopo daripada kuil. Terdapat makam Kyai Nyai Tumpeng yang merupakan juru masak Zheng He.

11. Pohon Rantai

Pohon ini diyakini sebagai jelmaan dari tali jangkar dari kapal Sang Laksamana. Bentuk dahannya menyerupai rantai kapal.

12. Patung Dewa Penjuru Angin

Terdapat delapan patung Dewa Penjuru Angin di depan Kuil Dewa Bumi.

8 Dewa Penjuru  Angin

 

Di Klenteng Sam Poo Kong ini juga tersedia penyewaan kostum tradisional kerajaan China. Ada fotografernya juga yang siap mengabadikan moment tersebut.