Jalan-jalan

Cerita tentang jalan-jalan

Petik Strawberry di Sari Ater

Si kakak pingin banget metik strawberry, dari tadi ngerayu si papa buat bayarin. Rupanya sebelum masuk ke gerbang masuk Sari Ater dia liat tuh ada spanduk petik Strawberry.  Area petik Strawberry ini letaknya di depan halaman Sari Ater Hotel & Resort.

Petik Strawberry di Sari Ater

Petik Strawberry di Sari Ater

 

Areanya ga begitu luas. Strawberrynya juga ga terlalu banyak yang sudah matang. Untuk perlengkapan memetiknya, anak-anak dikasih keranjang sama gunting untuk memotong tangkai strawberrynya. Lalu kenapa namanya petik strawberry bukan gunting strawberry? Ga tau ah!

Anak-anak asyik petik, eh gunting strawberry

Anak-anak asyik petik, eh gunting strawberry

 

Hasil menggunting strawberry

Hasil menggunting strawberry

 

Foto di atas adalah hasil anak-anak menggunting strawberry. Setelah ditimbang beratnya 2 kilo kurang dan kami harus membayar Rp. 80.000,-.  Whaatt? mahal bet. Tadi masuknya sama si papa, jadi aku ga nanya-nanya lagi harganya.  Perasaan kalau beli sama abang-abang cuma Rp. 20.000,- per 1 kotak plastik besar.

Dan…. yang lebih bikin kesel adalah strawberrynya ketinggalan di lemari es kamar hotel.  Bhhuaaa… *garuk-garuk tembok*

Tangkuban Perahu

Liburan akhir tahun kali ini adalah ke Bandung lagiii. Sebenarnya bingung juga kalau ke Bandung mau ngapain. Mau kuliner, anak-anak makannya pada picky. Mau jalan-jalan juga ga tau kemana. Akhirnya mentok-mentok Lembang lagi, Lembang lagi.. hihi..

Rencananya mau lihat ke tempat-tempat yang lagi happening di Lembang, seperti Farmhouse Susu, Dusun Bambu, Lawang Wangi, dsb. Tapi ternyata, waakkss… Lembang penuh padat. Mulai dari jalan Sukajadi sudah mulai merayap. Sampai di Farmhouse Susu jam 10 kurang tapi parkiran di dalam sudah penuh, banyak mobil yang kemudian parkir di luar sepanjang jalan dan bikin macet tambah parah. Akhirnya batal deh ke sana. Duuh, males banget kalau banyak orang gitu di dalam, ga bisa eksis foto-foto juga :D

Ke arah Dusun Bambu juga macet. Liat dari GPS jalanan udah pada merah semua.. huhu.. Akhirnya si papa ngajak ke Tangkuban Perahu. Yo wes, hayuk aja. anak-anak juga belum pernah liat kawah, sekalian biar mereka pada tahu. Eh tapi si Edward malah jadi lebay banget. “Ngapain sih ma ke kawah gunung? Ntar kalau gunungnya meletus gimana?” Haiyah, ni anak penakut amat :D

Selepas pasar Lembang, perjalanan menuju Tangkuban Perahu boleh dibilang sepi. Sepertinya orang-orang lebih memilih wisata kekinian daripada mengunjungi kenampakan alam. Jadi ingat enam tahun yang lalu, waktu anak-anak masih piyik, kami pergi ke Ciater. Berhubung di tengah jalan si kakak kebelet pipis, akhirnya kami berhenti di pinggir jalan, menghadap sawah yang luas dan Marshapun pipis di sana… hahaha…

Sampai di gerbang Tangkuban Perahu masuk, bayar tiket dulu. Rp. 20.000,-/orang dan Rp. 25.000,-/mobil. Dari gerbang, tempat yang kami tuju adalah Kawah Ratu. Jalan menuju ke Kawah Ratu menanjak dan berliku-liku, dengan pepohonan di kanan kirinya. Tambah takutlah Edward. “Oh, my God.. Mom, it’s so scary!” *duh, ni anak*.

Kawah Ratu adalah kawah yang terbesar dan mudah diakses oleh kendaraan. Tersedia banyak parkiran untuk kendaraan pribadi di area Kawah Ratu, sedangkan untuk bis ada parkiran khusus sebelum sampai ke Kawah Ratu. Dari parkiran bis, bisa naik mobil ELF untuk mencapai Kawah Ratu, tapi aku ga tau harus bayar lagi apa engga. Selain Kawah Ratu, masih ada 9 kawah lainnya yang terdapat pada Gunung Tangkuban Perahu ini, yaitu Kawah Domas, Kawah Upas, Kawah Baru, Kawah Lanang, Kawah Ecoma, Kawah Jurig, Kawah Siluman, Kawah Pangguyangan Badak dan Kawah Jarian. Di Kawah Domas, kita bisa merendam kaki dalam sumber air panas dan bahkan merebus telur di dalam kawahnya. Untuk mencapai Kawah Domas pengunjung harus berjalan kaki. Selain Kawah Domas, kawah lain yang sering dikunjungi pengunjung adalah Kawah Upas. Kawah Upas terletak di sebelah Kawah Ratu. Jalan menuju ke Kawah Upas terjal dan banyak bebatuan serta pasir. Pemandangan di Kawah Upas sangat bagus, katanya. Kami hanya melihat Kawah Ratu saja, karena perjalanan menuju kawah lainnya cukup sulit apabila dilakukan bersama anak-anak. Boro-boro bawa anak-anak, bawa kaki sendiri aja udah susah.. haha.. maklum kaki nenek-nenek.

Di Kawah Ratu, yang paling ingin aku cium adalah bau belerang. Tapi ternyata, belerangnya sudah tidak bau seperti dulu waktu aku kecil. Terakhir ke sini barangkali sudah hampir 30 tahun yang lalu.. wkwkwk.. Dulu itu, inget banget tanteku hampir pingsan karena ga kuat cium bau belerangnya. Sekarang mah ga ada apa-apanya. Anak-anak cuma nanya, “Mah, ini bau apaan ya?” Tapi udah gitu mereka santai aja, gak terganggu sama bau belerangnya, karena memang baunya tidak menyengat lagi.

 

parkiran-kawah-ratu

Area parkir Kawah Ratu

 

Pemandangan Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Perahu

Pemandangan Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Perahu

 

kawah-ratu-tangkuban-perahu1

Mau bawa suvenir dari Tangkuban Perahu? Tenang, di sini banyak banget toko suvenir maupun orang-orang yang berkeliling menawarkan suvenir, mulai dari kaos, tas, topi sampai angklung juga ada. Tapi yang paling menarik adalah topi dengan penutup telinga berupa kepala binatang yang lucu-lucu. Si papa disuruh beli satu buat bawa ke Jerman gak mau… haha..

Aneka suvenir

Aneka suvenir

 

Topi kepala binatang

Topi kepala binatang

 

Setelah puas melihat-lihat, foto sana-sini, kamipun melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah wisata air panas alam Sari Ater.

Godong Ijo, Sawangan – Depok

Field Trip Edward kali ini adalah ke Godong Ijo yang terletak di Sawangan, Depok. 2 minggu yang lalu Marsha juga field trip ke Taman Matahari di Puncak. Berhubung setiap field trip orang tua dilarang ikut, jadinya ga ada foto-fotonya sama sekali. Nah, field tripnya Edward ini juga sebenarnya ortu ga boleh ikut, tapi aku penasaran sama Godong Ijo, pingin liat vertical gardennya dan siapa tau bisa beli tanaman untuk ditanam di rumah. Akhirnya, dengan ngumpet-ngumpet ala detektif biar ga keliatan sama gurunya, beberapa ortu juga ikut ngintil ke Godong Ijo naik mobil pribadi bahkan ada yang lanjut kuliner ke Bogor… hihi.. ketauan banget emang pingin jalan-jalan :D

Godong Ijo mengklaim dirinya sebagai tempat pembibitan terbesar di Indonesia yang mengembangkan berbagai jenis tanaman hias dan sebagai pusat pengembangan dan penyedia kontraktor vertical garden. Namun selain itu, Godong Ijo juga menyediakan tempat rekreasi untuk keluarga dan paket wisata edukasi yang dapat dinikmati secara berkelompok.

Beberapa paket wisata edukasi yang disediakan antara lain :

  1. Young Greeners, yaitu kegiatan yang mengajak anak-anak menjadi lebih mencintai lingkungan.
  2. Kelas Robotik
  3. Dokter Cilik
  4. Fast Learning Camp, yaitu kegiatan untuk memaksimalkan fungsi otak.
  5. Membuat keramik, membatik dan permainan tradisional
  6. Bermain angklung dan wayang
  7. Koki Cilik

Nah, paket yang diambil sekolahnya Edward adalah Young Greeners (lamanya 3 jam), dimana kegiatannya meliputi :

  • Nonton film Global Warming
  • Menyiram tanaman, menjodohkan buah dengan tanaman
  • Berinteraksi dan memberi makan iguana, kura-kura dan ular
  • Melihat ikan sumpit
  • Permainan tradisional : Yoyo, Gangsing, Enggrang batok
  • Demo pembangkit tenaga listrik tenaga air dan angin
  • Berkeliling ke area pembibitan, green house dan vertical garden
  • Bermain di wahana mini outbond

 

Tapi karena aku ikut ke sananya sambil ngumpet-ngumpet, jadi sama sekali ga punya foto kegiatannya anak-anak… hiks.. Cuma ada beberapa foto yang aku ambil saat berkeliling di area Godong Ijo.

Berbagai jenis tanaman ada di sini

Berbagai jenis tanaman ada di sini

Vertical garden

Vertical garden
vega-godong-ijo

Vertical Garden

Green house

Green house

Ini tanaman-tanaman yang dijual. Tidak terlalu banyak macamnya (mau cari tanaman buah tidak ada) dan harganya agak mahal

Ini tanaman-tanaman yang dijual. Tidak terlalu banyak macamnya (mau cari tanaman buah tidak ada).

wahana mini outbound

wahana mini outbound

 

ini kolam apa ga jelas, kotor banget. Kata Edward ada ikannya kecil-kecil.

Ini salah satu tempat kegiatan berlangsung… kotor yak.  Kata Edward, di sini cuma liatin ikan kecil-kecil.

 

Selain melihat-lihat tanaman, di sini kita bisa memberi makan dan berfoto bersama dengan iguana, ular dan Bagong, si kura-kura raksasa (maaf, ga ada fotonya :D). Si Bagong ini merupakan kura-kura yang besar, umurnya sudah lebih dari 20 tahun dan beratnya mencapai 200kg. Tapi sayang kandang iguana dan kura-kuranya menurut aku kurang bersih dan terkesan seadanya.

Di Godong Ijo ini juga terdapat cafe yang dinamakan Botanical Cafe. Konon taman di cafe ini dihiasi pepohonan langka yang berusia puluhan tahun. Ada juga kolam ikan koi dan kolam ikan alligator dan kandang si Bagong. Tapi sewaktu aku mau pesan makanan di sini, eh.. cafenya tutup. Bah!

Bagi yang hobi memancing, tersedia juga kolam pemancingan yang cukup luas dilengkapi saung-saung yang besar. Yang terkenal di sini adalah monter fish, yaitu ikan yang beratnya mencapai 60kg. Nampaknya tempat pemancingan ini cukup favorit untuk wisata keluarga di daerah sini.

Kolam pemancingan

Kolam pemancingan

 

Secara keseluruhan, kunjungan di Godong Ijo ini kurang begitu menarik. Edwardpun waktu aku tanya apakah karyawisatanya menyenang, dijawab “Not really.” Suasana di Godong Ijo ini terkesan suram, cafenya-pun terlihat beda dengan foto yang ada di websitenya. Di beberapa tempat terlihat kotor dan kurang terawat. Hanya area green house dan vertical gardennya saja yang terlihat bersih dan terawat. Tapi bagi anak-anak membosankan hanya melihat tanaman saja.

Untuk paket Young Greeners yang diambil pihak sekolah juga tidak terasa gregetnya sama anak-anak. Mungkin karena terlalu banyak jumlah anak yang ikut, sekitar 240 orang. Dari 240 orang dibagi 5 atau 6 grup sehingga masing-masing grup berisi lebih dari 40 anak. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak-anak dengan total waktu 3 jam, sehingga masing-masing kegiatan hanya dibatasi 15 menit. Otomatis tidak semua anak turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, banyak yang hanya sekedar melihat saja :(